Waduh! Mal Middle-Low Sepi Peminat, Pakar Ini Ungkap Sebabnya

Highlights:

  • Mal dengan kelas premium (prime) mencatatkan antrean tenant, sementara mal di kelas menengah ke bawah berjuang keras mencari penyewa.
  • Pergeseran strategi bisnis para pengembang menjadi kunci penentu. Mal besar sukses beradaptasi dengan mengubah komposisi penyewa mereka. Ruang yang dulunya diisi oleh department store raksasa kini banyak direlokasi untuk sektor Food and Beverage.
  • Generasi muda saat ini pergi ke mal bukan semata untuk belanja produk fashion—karena itu bisa dibeli secara online. Mereka datang untuk experience (pengalaman).

AP HEADER

Jakarta – Kondisi pasar ritel atau pusat perbelanjaan di Jakarta pada kuartal III-2026 menunjukkan tingkat polarisasi yang tajam. Mal dengan kelas premium (prime) mencatatkan antrean tenant, sementara mal di kelas menengah ke bawah berjuang keras mencari penyewa.

Laporan ketimpangan ini menjadi sorotan utama dalam acara Jakarta Property Market and Trends Q3 2026 yang digelar oleh CBRE Indonesia di Kantor CBRE, Lantai 21 WTC 3, Jakarta, pada Rabu (28/10). Head of Research and Consulting CBRE Indonesia, Anton Sitorus, mengungkapkan bahwa mal premium di Jakarta mencatatkan tingkat okupansi luar biasa di atas 95%.

“Tren mal saat ini sangat jomplang. Prime dan upper-tier malls masih sangat diminati dengan okupansi dan jejak pengunjung (traffic) yang sangat tinggi. Sebaliknya, mal-mal yang levelnya middle-low agak berat karena sepi peminat dari sisi riteler,” jelas Anton dalam acara tersebut, dikutip Kamis, 29 Oktober 2026.

Menurut Anton, pergeseran strategi bisnis para pengembang menjadi kunci penentu. Mal-mal besar masa kini sukses beradaptasi dengan mengubah komposisi penyewa mereka. Ruang yang dulunya diisi oleh department store raksasa kini banyak direlokasi untuk sektor Food and Beverage (F&B), fasilitas hiburan (entertainment), kesehatan (wellness), serta gerai hobi seperti toko buku pop kultur.

“Generasi Z dan milenial saat ini pergi ke mal bukan semata-mata untuk belanja produk fashion—karena itu bisa dibeli secara online. Mereka datang untuk experience (pengalaman), ngopi, atau bersosialisasi. Oleh karena itu, retailer yang agresif melakukan ekspansi di mall saat ini adalah F&B dan lifestyle,” urai Anton.

Data CBRE mencatat, harga sewa rata-rata mal secara keseluruhan stabil di kisaran Rp800.000 per meter persegi per bulan, di mana mal kelas atas mematok harga jauh di atas rata-rata tersebut seiring tingginya traffic yang mereka hasilkan. Hal ini menjadi tantangan berat bagi pengembang mal kelas bawah untuk segera merevitalisasi konsep aset mereka jika tidak ingin ditinggalkan oleh pengunjung dan penyewa. JOS

Editor: SW

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.