Veronica Tan dan Puluhan Bankir Adu Akting di Panggung Ketoprak Financial “Sultan Agung”
Highlight:
- Veronica Tan memukau sebagai istri Jan Pieterszoon Coen di Ketoprak Financial “Sultan Agung”.
- Petinggi industri keuangan sukses menghidupkan kisah Sultan Agung dengan balutan humor dan pesan persatuan.
- Seluruh hasil penjualan tiket disalurkan untuk pendidikan anak melalui Yayasan Anak Asuh Kita.

Jakarta– Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan sukses mencuri perhatian saat tampil dalam pagelaran Ketoprak Financial “Sultan Agung” yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis (30/7).
Memerankan istri Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen, Veronica tampil luwes dan percaya diri di atas panggung.
Jan Pieterszoon Coen dikenal sebagai arsitek utama penguatan kekuasaan dagang sekaligus politik VOC di Nusantara pada awal abad ke-17.
Di bawah kepemimpinannya, Batavia dibangun menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan VOC yang kemudian menjadi basis ekspansi Belanda di kawasan Asia.
Akting Veronica Tan dan Suwandi yang natural berpadu dengan dialog-dialog jenaka membuat penonton berkali-kali terpingkal, sekaligus memberi warna baru pada kisah heroik perjuangan Sultan Agung Hanyakrakusuma melawan VOC Belanda.
Veronica bukan satu-satunya figur yang tampil memukau. Panggung Ketoprak Financial juga diramaikan para petinggi industri keuangan, perbankan, BUMN, anggota BPK RI, akademisi, hingga jurnalis senior yang meninggalkan rutinitas kantor untuk beradu akting dalam balutan seni tradisional.
Di bawah arahan sutradara Aries Mukadi, mereka berhasil menyulap kisah sejarah menjadi pertunjukan yang ringan, menghibur, namun tetap sarat pesan persatuan dan nasionalisme.
Para tokoh yang ambil bagian dalam pagelaran tersebut antara lain Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno, Anggota BPK RI Fathan Subchi, Komisaris Utama Allo Bank Aviliani, Wakil Direktur Utama BNI Alexandra Askandar, Direktur Bank Danamon Rita Mirasari, Ketua Umum IBI Haryanto T. Budiman, Direktur Telkom Seno Soemadji, Direktur BCA Antonius Widodo, Direktur NobuBank Juanita Luthan, Direktur Pertalife Alfa Niasari, Komisaris Bank Ganesha Lisawati, Komisaris Utama DANA Rudiantara, Direktur Surveyor Indonesia Evi Afiatin, Direktur Asuransi Sinar Mas Dumasi MM Samosir, Direktur Utama Bank Kalbar Rokidi.
Lalu ada Komisaris SMBC Indonesia Kusumaningtuti, Wakil Direktur Utama Asuransi Cakrawala Proteksi Nicolaus Prawiro, Presiden Direktur Asuransi Maximus Jemmy Atmadja, Direktur Pegadaian Tribuana Tunggadewi, Komisaris InaRe Benny Purnomo, Chairman Infobank Media Group Eko B. Supriyanto, serta Direktur Infobank Karnoto Mohamad.
Pagelaran yang diproduksi Indonesia Media Network itu juga menghadirkan komedian Yanti Lemu sebagai bintang tamu.
Mengangkat lakon “Sultan Agung”, pertunjukan berdurasi hampir dua jam tersebut menyajikan kisah perjuangan Kerajaan Mataram Islam melawan VOC dengan sentuhan humor kekinian.
Dialog-dialog kekinian yang menyinggung QRIS, barcode, investasi bodong hingga kecerdasan buatan (AI) sukses memancing gelak tawa, tanpa mengaburkan pesan utama tentang pentingnya persatuan dan semangat melawan penjajahan.

Ringkasan Kisah
Lakon “Sultan Agung” mengangkat salah satu babak penting dalam sejarah Nusantara, yakni perjuangan Kerajaan Mataram Islam menghadapi kekuatan VOC Belanda di Batavia.
Pada masa itu, Mataram dipimpin Sultan Agung Hanyakrakusuma yang memerintah sekitar 1613 hingga 1645 dan dikenal sebagai penguasa yang berhasil memperluas sekaligus mempersatukan sebagian besar wilayah Pulau Jawa di bawah kekuasaan Mataram.
Di tengah keberhasilannya menyatukan Tanah Jawa, Batavia menjadi satu-satunya wilayah yang belum dapat dikuasai karena berada di bawah kendali VOC Belanda.
Perlakuan sewenang-wenang VOC terhadap rakyat di wilayah Mataram kemudian memicu kemarahan Sultan Agung hingga memutuskan mengirim pasukannya melancarkan ekspedisi besar ke Batavia pada 1628 dan kembali pada 1629.
Meski kedua serangan tersebut belum berhasil mematahkan kekuasaan VOC, perjuangan pasukan Mataram dikenang sebagai salah satu perlawanan terbesar terhadap kolonialisme pada masanya.
Upaya itu menghadapi berbagai hambatan, mulai dari merebaknya wabah penyakit yang merenggut banyak prajurit hingga serangan VOC terhadap jalur-jalur logistik Mataram. Kondisi tersebut akhirnya memaksa Sultan Agung menarik pasukannya dan kembali ke Plered. (*)

