Rebalancing MSCI Berlaku, IHSG Tetap Perkasa di Zona Hijau
Highlight:
- Rebalancing MSCI resmi berlaku mulai 1 Juni 2026, namun IHSG justru rebound dan dibuka menguat ke level 6.146 di tengah volatilitas pasar yang tinggi.
- Hans Kwee menilai saham yang keluar dari indeks MSCI tetap memiliki fundamental kuat dan valuasi menarik, sehingga berpotensi menjadi momentum bottom IHSG.
- BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG masih bergerak konsolidasi di area support 6.060 dan resistance 6.240, dengan tekanan volatilitas akibat rebalancing MSCI.

Jakarta – Pasar saham Indonesia diperkirakan menghadapi volatilitas tinggi pada perdagangan Jumat (29/5/2026) seiring efektifnya rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan berlaku mulai 1 Juni 2026.
Meski demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mampu rebound dan dibuka menguat pada sesi perdagangan pagi ini.
IHSG terpantau dibuka naik 15,86 poin atau 0,26 persen ke level 6.146. Pergerakan indeks berada di rentang 6.111 hingga 6.148 pada awal sesi I perdagangan.
Penguatan IHSG terjadi di tengah aksi rebalancing portofolio oleh fund manager pasif menyusul pengumuman hasil review MSCI pada 12 Mei 2026 lalu.
Sejumlah pelaku pasar sebelumnya memperkirakan tekanan jual masih akan membayangi saham-saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI.
Co-Founder Pasar Dana sekaligus praktisi pasar modal, Hans Kwee, mengatakan sebagian besar fund manager diperkirakan sudah melakukan penyesuaian portofolio lebih awal sebelum tanggal efektif rebalancing.
“Yang menarik, tidak terlihat kepanikan berarti di pasar, biarpun sebagian saham yang dikeluarkan MSCI tertekan turun,” kata Hans Kwee dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).
Menurutnya, penghapusan sejumlah saham Indonesia dari MSCI lebih bersifat teknikal terkait metodologi pembobotan dan likuiditas, bukan mencerminkan penurunan fundamental perusahaan.
Hans menilai, banyak emiten yang keluar dari indeks MSCI justru masih memiliki fundamental kuat dan valuasi menarik untuk jangka panjang.
Ia juga melihat momentum rebalancing MSCI berpotensi menjadi titik bottom bagi pelemahan IHSG sebelum kembali menguat mengikuti kinerja fundamental emiten.
“Banyak perusahaan yang dikeluarkan berfundamental bagus, punya prospek yang sangat baik dan saat ini punya valuasi yang sangat menarik,” ujarnya.
Di sisi lain, reformasi pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama self-regulatory organization (SRO) dinilai berhasil meningkatkan transparansi dan kredibilitas pasar modal domestik sehingga mampu menjaga kepercayaan investor.
Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas menilai volatilitas pasar jangka pendek masih akan meningkat pada penutupan perdagangan hari ini akibat efek rebalancing MSCI.
Secara teknikal, BRI Danareksa memperkirakan IHSG bergerak di area support 6.060 dan resistance 6.240.
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup melemah 1,23 persen ke level 6.130 dengan aksi jual bersih asing mencapai Rp1,89 triliun di pasar reguler.
“IHSG masih berpotensi bergerak dalam tren konsolidasi melemah dengan area resistance di 6.240 dan support di 6.060,” tulis BRI Danareksa Sekuritas.
Di awal perdagangan, sejumlah saham terpantau naik dan masuk daftar top gainers. Harga sahamnya melonjak mulai dari 18 persen hingga 25 persen.
Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melonjak 25 persen ke level 3.300, sementara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melejit 24,75 persen menjadi Rp630.Selain itu, saham PT Bhakti Multi Artha Tbk (BHAT) naik 24,69 persen ke level Rp1.010, PT Kedoya Adyaraya Tbk (RSGK) menguat 24,35 persen menjadi Rp1.200, dan PT Indonesia Prima Property Tbk (OMRE) meningkat 18,56 persen ke level Rp990.
Sementara, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada menit-menit awal perdagangan hari ini tercatat sebanyak 4 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp2,147 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 93,5 ribu kali.
Sebanyak 214 saham tercatat menguat, 252 saham melemah, dan 493 saham bergerak stagnan. (*) RAL

