83 Persen Warga RI Tak Setuju Serangan AS-Israel ke Iran, 58 Persen Tak Setuju Yahudi Memusuhi Islam

Highlights:

  • Tiga lembaga survei yakni Lembaga Survei Indonesia, Indikator Politik Indonesia, dan SaifulMujani Research and Consulting berkolaborasi merilis survei nasional bertema “Legitimasi Publik atas Perang Amerika Serikat – Israel dan Iran”.
  • Sebanyak 83,1 persen responden tidak setuju/sangat tidak setuju pada serangan koalisi AS-Israel terhadap Iran.
  • Sebagai negara dengan mayoritas populasi beragama Islam, masyarakat Indonesia yang disurvei menyatakan tidak setuju/sangat tidak setuju jika orang Yahudi akan terus memusuhi Islam (58,7 persen). Hanya 28 persen yang setuju/sangat setuju dengan premis tersebut.

Jakarta – Tiga lembaga survei yakni Lembaga Survei Indonesia, Indikator Politik Indonesia, dan SaifulMujani Research and Consulting berkolaborasi merilis survei nasional bertema “Legitimasi Publik atas Perang Amerika Serikat – Israel dan Iran”.

Baca juga...

Dalam survei yang dilakukan pada periode 12-31 Maret 2026 dengan jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 1.066 sampel terdiri atas semua warga negara Indonesia dewasa berusia 17 tahun ke atas dan memiliki cellphone (sekitar 80 persen dari total populasi) serta terdiri atas berbagai latar belakang etnis dan agama ini, terlihat sebanyak 83,1 persen responden tidak setuju/sangat tidak setuju pada serangan koalisi AS-Israel terhadap Iran.

Hanya 4,9 persen warga yang setuju/sangat setuju dengan serangan AS-Israel terhadap Iran; 7,4 persen antara setuju dan tidak setuju; dan 4,5 persen tidak bersikap. Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi menyatakan bahwa hal ini menunjukkan betapa kecilnya “pendukung” keputusan koalisi AS-Israel menyerang Iran di Indonesia.

“Dukungan pada level sikap terhadap serangan Israel dan Amerika Serikat itu hanya 4,9 persen, jadi sangat sedikit. Ini kelompok super minority,” ujar Burhanuddin dalam diskusi publik di Jakarta, Kamis, 2 April 2026.

Senada dengan hal itu, persentase keinginan masyarakat RI untuk meyakinkan orang lain jika serangan AS-Israel terhadap Iran dibenarkan juga sangat sedikit, yakni hanya 13,7 persen yang ingin/sangat ingin meyakinkan orang lain bahwa AS-Israel berada di pihak yang benar dalam konflik dengan Iran.

Sementara 68,8 persen menyatakan tidak ingin/sangat tidak ingin; 10,1 persen antara ingin dan tidak ingin; dan 7,4 persen memilih untuk tidak bersikap. Ini berlanjut ke aspek keinginan masyarakat untuk menjadi relawan kesehatan tentara AS-Israel dalam perang melawan Iran, dimana hanya 13 persen warga RI yang ingin/sangat ingin menjadi relawan tim medis tentara AS atau Israel dalam perang melawan Iran, dengan 74,4 persen di antaranya tidak ingin/sangat tidak ingin; 10 persen antara ingin dan tidak ingin; dan 2,6 persen yang tak bersikap.

“Jadi, secara sederhana kita memiliki indikasi yang kuat bahwa dukungan terhadap serangan tersebut itu tidak legitimate bagi warga nasional,” ucap Burhanuddin.

Baca Juga...

Sementara itu, hanya 22 persen warga RI yang setuju/sangat setuju jika perang AS-Israel dengan Iran tak bisa dihindarkan alias terpaksa dilakukan karena Iran sudah menjadi ancaman nyata akan menyerang Israel dengan senjata nuklir. Sedangkan 59,4 persen menyatakan tidak setuju/sangat tidak setuju; 13,5 persen antara setuju dan tidak setuju; dan 5,1 persen memilih untuk tidak bersikap.

Di satu sisi, mayoritas warga RI atau 67 persen menyatakan tidak setuju/sangat tidak setuju dengan pendapat yang menyatakan hubungan antar negara pada dasarnya saling mengancam, dan maka dari itu, segala cara, termasuk memusnahkan negara lain harus dilakukan sebagai langkah mempertahankan diri.

“Ini menunjukkan bahwa publik Indonesia pada umumnya tidak realis,” tekan Burhanuddin.

Uniknya, sebagai negara dengan mayoritas populasi beragama Islam, masyarakat Indonesia yang disurvei menyatakan tidak setuju/sangat tidak setuju jika orang Yahudi akan terus memusuhi Islam (58,7 persen). Hanya 28 persen yang setuju/sangat setuju dengan premis tersebut.

“Ini menunjukkan kebanyakan masyarakat Indonesia sudah cerdas. Bisa memilah antara Yahudi sebagai etnis dan entitas Israel sebagai suatu negara dengan pemerintahan,” tukas Burhanuddin. SW

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.