Iran Akhirnya Menemukan Kata Kunci Kemenangan: Selat Hormuz

Jakarta — Tak ada sakit tanpa ada obatnya. Dan seringkali, obatnya tak jauh-jauh dari sumber sakitnya. Inilah plot twist perang Iran versus Israel yang disokong Amerika Serikat (AS).

Iran, Negeri Para Mullah, akhirnya menemukan “obat” dari remuk-redam karena ulang negara penebar hama: AS dan Israel. Obatnya tak jauh dari reruntuhan Kota Teheran: Selat Hormuz.

Ya, selat inilah yang akhirnya mampu mengontrol nafsu sok kuasa Amerika dan sifat kemlinthi Israel. Setelah lebih dari 10 hari saling kirim rudal dan drone harakiri, Iran menemukan kunci kemenangannya.

AS langsung kicep. Israel ikut pontang-panting demi melihat negara besar yang jadi kacungnya itu mati langkah. Tak ada banyak pilihan, selain melambaikan handuk putih.

Tapi dasar Amerika. Meski tertekan setelah Iran menutup Selat Hormuz, yang langsung melambungkan harga minyak dunia, dan itu sistemik ke ekonomi banyak negara, Amerika masih sok-sokan sebagai pemenang atas perang yang disulutnya.

Ayatollah Motjaba Khamenei tahu itu. Makanya, dengan senyum dingin, dia keukeuh pada sikapnya: Tutup Selat Hormuz!

Negara-negara lain yang ingin kapal tongkang pengangkut minyaknya melewati Selat Hormuz diwajibkan meneken syarat yang membuat Amerika keki setengah mati: Bubarkan Kedubes dan pangkalan militer Amerika di negaranya.

Syarat buat Amerika dan Israel lebih bikin mules perut Donald Trump dan Benyamin Netanyahu: 1. Hentikan serangan dan minta maaf kepada Iran dan dunia, 2. Ganti seluruh kerusakan di Iran akibat ulah mereka selama dua pekan ini, dan 3. Jangan sekali-kali mencoba untuk mengulangi kebodohan dengan kembali menyerang Iran di masa-masa mendatang.

Tiga syarat yang, sepertinya tak mungkin dipenuhi Amerika.

Artinya apa? Perang masih terus lanjut, meski dengan skala kecil. Iran akan sesekali menghujani rudal dan mengirim drone pembunuh ke Tel Aviv. Secara moral, Iran di atas angin. Serangan itu adalah cara mereka bertahan karena diserang duluan. Hukum positif membenarkan itu, kecuali di Indonesia di mana korban jambret malah jadi tersangka karena melawan penjambretnya.

God job, Motjaba! (Darto Wiryosujarto)

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.