Tokoh Keuangan Syariah Serukan Pentingnya Orkestrasi Lintas Sektor Demi Dorong Ekonomi Syariah
Highlights:
- Potensi industri keuangan syariah di Indonesia dinilai belum tergarap secara maksimal. Untuk mendorong pemerataan ekonomi dan menjangkau masyarakat unbanked, para pemangku kepentingan menyerukan pentingnya regulasi pendukung dan sinergi lintas sektor secara nyata.
- Koko Tjatur Rachmadi selaku Presiden Direktur Bank Aladin Syariah menyatakan bahwa industri membutuhkan dukungan regulasi yang kuat agar bisa bergerak gesit.
- Sementara Kiai Ayub selaku Wakil Ketua Dewan Pengawas BPI Danantara dan Ketua Dewan Pembina MES menyoroti pentingnya penetrasi pembiayaan syariah ke lapisan masyarakat terbawah yang bersentuhan langsung dengan sektor riil.
Jakarta – Potensi industri keuangan syariah di Indonesia dinilai masih sangat besar dan belum tergarap secara maksimal. Untuk mendorong pemerataan ekonomi dan menjangkau masyarakat unbanked, para pemangku kepentingan menyerukan pentingnya regulasi pendukung, business matching, serta sinergi lintas sektor secara nyata.
Hal itu mengemuka dalam sebuah Panel Diskusi dengan tema “Peran Keuangan Syariah dalam Mendukung Pemerataan Ekonomi dan Ketahanan Nasional” yang diselenggarakan Infobank Media Group, di Shangri-La Hotel, Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Kebutuhan akan ekosistem hukum dan dukungan kebijakan menjadi sorotan pada diskusi panel tersebut. Koko Tjatur Rachmadi selaku Presiden Direktur Bank Aladin Syariah menyatakan bahwa industri membutuhkan dukungan regulasi yang kuat agar bisa bergerak gesit.
“Apa yang dibutuhkan industri saat ini adalah policy yang mendukung. Sebut saja turunan dari Undang-Undang P2SK (Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan), atau perlunya menjadikan sistem hukum perbankan di Aceh (Qanun) sebagai laboratorium atau role model,” tegas Koko dalam diskusi panel tersebut.
Senada dengan hal tersebut, Kiai Ayub selaku Wakil Ketua Dewan Pengawas BPI Danantara dan Ketua Dewan Pembina MES yang turut hadir memberikan pernyataan penutup, menyoroti pentingnya penetrasi pembiayaan syariah ke lapisan masyarakat terbawah yang bersentuhan langsung dengan sektor riil.
“Tantangan ke depan adalah keberanian sektor perbankan syariah untuk masuk ke sektor mikro dan ultra mikro, guna mendukung kesejahteraan masyarakat,” tutur Ayub.
Menutup sesi diskusi, Muliaman Hadad selaku Wakil Ketua Dewan Pengawas BPI Danantara dan Ketua Dewan Pembina MES memberikan pesan optimisme kepada seluruh pelaku industri. Ia menegaskan bahwa kolaborasi berjamaah mutlak diperlukan demi mengejar berbagai target dan indikator keuangan syariah di masa depan.
“Pekerjaan rumah masih banyak. Sebagian juga ada fenomena eksternal yang perlu kita manfaatkan bersama-sama. Selamat mengeksplor opportunity yang masih terbuka sangat luas bagi industri kita,” pungkas Muliaman. JOS
Editor: SW

