BRI Finance Tancap Gas, Kejar Pertumbuhan Berkualitas
BRI Finance memasuki fase baru dengan pertumbuhan bisnis yang semakin agresif sepanjang 2026. Di tengah ekspansi dan target yang lebih besar, perusahaan dituntut menjaga kualitas sekaligus menemukan ruang pertumbuhan baru.
BRI Finance tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan dengan membuka unit kerja sebanyak-banyaknya. Di tangan Ignatius Susatyo Wijoyo, ekspansi dibangun bersama dengan disiplin menjaga kualitas pembiayaan. Setelah menahan laju bisnis pada 2025 untuk memperbaiki kualitas, perusahaan mulai tancap gas pada 2026.
Per Agustus 2026, BRI Finance telah memiliki lebih dari 40 kantor unit kerja. Jumlah tersebut masih akan bertambah menjadi 81 unit kerja hingga akhir tahun. Ekspansi tidak diarahkan ke kota-kota besar yang sudah penuh pemain, melainkan menyasar kota tingkat dua dan tiga, termasuk sejumlah wilayah di luar Jawa.
Strategi tersebut bukan tanpa alasan. Satyo melihat ada ruang yang belum banyak digarap pemain multifinance. Di daerah-daerah tersebut, ekosistem BRI sudah lebih dulu hadir melalui jaringan perbankan, nasabah, hingga komunitas usaha. BRI Finance tinggal mempertemukan infrastruktur yang sudah tersedia dengan kebutuhan pembiayaan masyarakat.
“Kita bukan membiayai apa yang bisa kita biayai, tapi apa yang dibutuhkan oleh nasabah,” ujarnya kepada Infobank, belum lama ini.
Prinsip itu menjadi salah satu pegangan Satyo dalam membaca pasar. Baginya, ekspansi bukan sekadar mengejar volume, tetapi memastikan bisnis tumbuh di tempat yang memang memiliki kebutuhan dan peluang.
Pertumbuhan pun mulai terlihat dari sisi pembiayaan baru. Hingga Agustus 2026, pencairan pembiayaan baru telah mencapai sekitar Rp3,18 triliun, angka ini telah melampaui total pencairan sepanjang 2025 yang tercatat sebesar Rp2,6 triliun. Hingga akhir tahun, Satyo memproyeksikan pembiayaan baru dapat mencapai sekitar Rp6,2 triliun.
Pertumbuhan tersebut berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas. Non-performing financing (NPF) tercatat sekitar 1,2% pada Agustus 2026, membaik dari posisi Desember 2025 sebesar 1,53%. Hingga akhir tahun, NPF ditargetkan berada di kisaran 1,12%.
Di balik angka tersebut, Satyo menyebut ada satu kata yang terus ia dorong kepada timnya: productivity. unit-unit kerja baru memang tidak bisa langsung memberikan hasil maksimal. Ada learning curve yang harus dilewati, dari sekitar 20% pada awal pembukaan, naik menjadi 40%, 60%, hingga 80% dan kemudian mencapai produktivitas penuh.
Karena itu, ekspansi BRI Finance tidak berhenti pada penambahan titik layanan. Per Agustus 2026, Relationship Manager Consumer sejumlah 311. Tenaga collection juga akan diperkuat seiring bertambahnya jaringan.
Bagi Satyo, keberadaan fisik di daerah tetap penting meski digitalisasi terus berjalan. Di kota besar, nasabah mungkin sudah terbiasa dengan layanan digital. Namun, di kota tingkat tiga, hubungan langsung masih menjadi bagian penting dari bisnis multifinance. Nasabah terkadang perlu ditemui, diingatkan, atau dibantu ketika komunikasi melalui telepon tidak cukup.
Cara pandang tersebut tidak lepas dari perjalanan Satyo yang telah 32 tahun berkecimpung di industri multifinance. Pengalamannya di sejumlah perusahaan pembiayaan membuatnya melihat bisnis ini bukan hanya sebagai permainan angka, melainkan bisnis yang berhubungan langsung dengan masyarakat.
Itu pula yang membuat Satyo membawa konsep noble purpose dalam menjalankan BRI Finance. Ekspansi unit kerja di daerah, menurutnya, bukan hanya membuka akses pembiayaan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi lokal.
Namun, di balik target dan angka pertumbuhan, Satyo punya prinsip yang lebih sederhana. Ia percaya orang tidak harus mengetahui semuanya sejak awal. Ketika tidak tahu, bertanya. Ketika belum bisa, belajar. Dan ketika memiliki tujuan yang baik, jangan berhenti berusaha.
Bagi Satyo, keberhasilan perusahaan bukan hanya ketika angka pembiayaan tumbuh atau target tercapai. Ia ingin pertumbuhan tersebut ikut dirasakan karyawan dan keluarganya. Karena itu, ia menempatkan pertumbuhan yang sehat, menguntungkan, dan berkelanjutan sebagai bagian dari perjalanan BRI Finance menuju ambisi yang lebih besar.
Target masuk lima besar industri dalam lima tahun ke depan pun tidak ingin dicapai dengan terburu-buru. Satyo memilih membangun fondasinya lebih dulu dengan memperluas jaringan, memperkuat tim, menjaga kualitas pembiayaan, dan memastikan pertumbuhan tetap memberi manfaat.
“Saya mau tumbuh, sustain, menguntungkan, bermanfaat buat karyawan, masyarakat dan keluarganya,” tuturnya.
Di situlah cara Satyo membaca masa depan BRI Finance. Bukan sekadar semakin besar, tetapi semakin luas manfaatnya. ASP

