Top! BBTN Makin Menjanjikan, Rekomendasi Buy Dipertahankan
Jakarta– PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) berada dalam fase transformasi didukung pemerintah terkait sektor perumahan. Perseroan juga didukung tuntasnya spin-off UUS yang bisa menciptakan nilai tambahan melalui entitas syariah yang lebih fokus.
BBTN juga didukung kinerja operasional dan keuangan sepanjang Januari – November 2025 yang kuat, bahkan melampaui konsensus maupun proyeksi riset KB Valbury Sekuritas, meski berada di tengah suku bunga tinggi dan pertumbuhan biaya dana yang terkendali.
Analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi mengatakan, BTN menjadi penerima manfaat utama dari program pemerintah untuk penyediaan tiga juta unit rumah dan keberlanjutan skema FLPP. Kenaikan batas gaji untuk segmen subsidi juga memperluas pasar yang dapat digarap perseroan.
“Selain itu, pemisahan UUS menjadi entitas mandiri diproyeksikan membuka nilai pasar dan menangkap permintaan pembiayaan syariah yang bertumbuh, sehingga bakal menguntungkan BTN sebagai induk ke depan,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Senada, pengamat properti Panangian Simanungkalit mengatakan, BTN memiliki potensi yang besar untuk mendukung program Tiga Juta Rumah ke depannya, terutama di tengah tanda-tanda pemulihan ekonomi dan bangkitnya sektor properti. Pasalnya, pertumbuhan properti selalu mengikuti pertumbuhan ekonomi.
“Pertumbuhan properti sudah mulai terlihat dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang meningkat dari 5,04 di kuartal III-2025 menjadi 5,45% pada kuartal IV-2025. Siklus ekonomi sudah menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Biasanya properti akan mengikuti geliat ekonominya,” ujar Panangian dalam keterangannya, Rabu (14/1).
Menurut Panangian, tahun 2026 akan menjadi awal kebangkitan industri properti, salah satunya dibuktikan oleh peningkatan penyaluran KPR FLPP oleh BTN di sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), BTN menjadi penyalur KPR FLPP terbesar sebanyak 132.744 unit rumah pada 2025.
Terkait kinerja keuangan, BTN mencatatkan kenaikan laba bank only sebanyak 21,1% yoy menjadi Rp 2,91 triliun hingga November 2025. Angka tersebut berada di atas ekspektasi konsensus dan proyeksi internal riset.
Kenaikan tersebut didukung kenaikan signifikan pendapatan bunga bersih (NII) sebanyak 46,3% yoy menjadi Rp 15,79 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan pendapatan bunga 19,2% yoy dan biaya dana dengan kenaikan terkendali hanya 1,3% yoy.
BBTN juga berhasil mencatatkan kenaikan kredit sebanyak 8,7% menjadi Rp386,47 triliun hingga November 2025 atau lebih tinggi dari pertumbuhan industri perbankan domestik pada periode yang sama.
Dana pihak ketiga (DPK) naik 15,8% yoy menjadi Rp423,96 triliun, dan CASA tumbuh 6,8% yoy sebagai cerminanan strategi pendanaan berbasis dana murah (low-cost funding) yang terus diperkuat untuk mendukung margin dan profitabilitas jangka panjang.
BTN juga berhasil mencatatkan peningkatan net interest margin (NIM) menjadi sekitar 3,55% sampai November 2025, meningkat dari 3,49% hingga Oktober 2025 dan jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
Cost to Income Ratio (CIR) menurun, credit cost berada di level 1,73%, dan return on equity (ROE) naik menjadi 9,0%. Sejumlah fakta tersebut mendorong KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp1.530. Saat ini saham BBTN diperdagangkan di bawah -1SD historis.
Target tersebut juga mempertimbangkan target pertumbuhan kredit BTN tahun 2026 berkisar 10–12%, pertumbuhan DPK yang lebih tinggi, serta pertumbuhan laba bersih dua digit. (DW)


