Sambutan untuk Pengkhianat: Ketika Reza Pahlavi Minta Takhta, Rakyat Kasih Tomat Busuk

Highlights:

  • Waktu Berlin, Kamis (24/4), Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran, datang ke acara diaspora. Di luar gedung, puluhan warga Iran sudah nunggu. Reza dicerca makian, serta dilempari benda keras dan saus tomat yang landing-nya pas di punggung sama leher.
  • Saat Iran dihujani bom Amerika, Reza Pahlavi justru ngadem di ketek Amerika. Ngarep restu Paman Sam buat naik takhta. Ini bukan politik. Ini watak Brutus. Kawan makan kawan, bangsa digadaikan demi singgasana.
  • Rakyat Iran di Berlin sudah kasih kode sejelas lampu stadion: takhta itu bukan warisan, apalagi kalau ngambilnya sambil ngumpet di balik rok Pentagon.

Jakarta — Waktu Berlin, Kamis (24/4), Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran, datang ke acara diaspora. Tim hore-nya bilang “penyambutan hangat”. Realitanya? Hangat kayak kompor meledak.

Di luar gedung, puluhan warga Iran sudah nunggu. Bukan menggelar karpet merah. Bukan juga bawa bunga. Tapi bawa kemasan pasta tomat. Begitu si “calon raja” nongol, yang mendarat bukan mawar. Tapi makian, benda keras, dan saus tomat yang landing-nya pas di punggung sama leher. Merah berceceran di jas. Ironis: baju mahal, topping murahan.

Rumah lagi kebakaran, anak yang minggat malah negosiasi sama yang membakar rumah, biar dia dapat jatah hasil jarahan.

Saat Iran dihujani bom Amerika, Reza Pahlavi justru ngadem di ketek Amerika. Ngarep restu Paman Sam buat naik takhta. Ini bukan politik. Ini watak Brutus. Kawan makan kawan, bangsa digadaikan demi singgasana.

“Kita nggak butuh anak Shah!” teriak seorang ibu di tengah demo. Suaranya lebih nyaring dari pidato Reza. Di dalam, dia coba pasang muka datar. Di luar, polisi Jerman sibuk misahin pendukung versus penolak yang udah kayak suporter bola derbi.

Lucunya, tim media Reza masih jualan narasi “diterima rakyat”. Diterima apa? Diterima lemparan pasta.

Pepatah Persia bilang, “Singa yang minta makan ke serigala, ujungnya dimakan juga.” Reza mau jadi singa Iran, tapi ngemis mahkota ke Washington. Lupa sejarah: Shah bapaknya dulu juga ditopang AS, ujungnya ditendang revolusi. Anaknya ngulang episode yang sama, cuma beda season.

Rakyat Iran di Berlin udah kasih kode sejelas lampu stadion: takhta itu bukan warisan, apalagi kalau ngambilnya sambil ngumpet di balik rok Pentagon.

Mau jadi pemimpin? Pulang pas negara dibombardir, bukan nongkrong di Berlin lempar senyum. Mau dihormati? Berdarah-darah bareng rakyat, bukan bareng lobbyist.

Karena dalam politik, “air susu dibalas air tuba” itu dosa. Tapi “air mata bangsa dibalas kontrak takhta sama musuh” itu namanya pengkhianatan.

Dan pengkhianat, di mana-mana, sambutannya bukan bunga. Bukan juga karpet empuk. Tapi tomat busuk. DW

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.