Connect with us

Tiga Masalah Etis Seputar Transplantasi Jantung Babi

International

Tiga Masalah Etis Seputar Transplantasi Jantung Babi

Orang Amerika Serikat bernama David Bennett yang telah menjadi manusia pertama penerima transplantasi jantung babi belum lama ini telah menimbulkan perdebatan seputar etis atau tidaknya transplantasi jantung dari hewan ke manusia.

David yang berusia 57 tahun itu dinyatakan dalam kondisi yang benar-benar kritis, dan sudah tak bisa menerima transplantasi jantung dari manusia. Sejumlah masalah etis yang mengelilingi transplantasi dari babi yang genetiknya sudah dimodifikasi tersebut adalah terkait dengan kesehatan tubuh pasien pasca operasi, hak-hak hewan, dan keyakinan agama.

Bila transplantasi dari sesama organ manusia saja bisa menimbulkan masalah hingga mengancam keselamatan pasien, lalu begitu pula dengan transplantasi dari organ hewan ke tubuh manusia. Bahkan, tingkat bahayanya bisa dua kali lipat lebih besar.

“Anda tak akan pernah tahu bahwa bisa saja pasien akan meninggal setelah operasi akibat tubuh ternyata tak bisa menerima organ yang didonorkan. Bahwa kita tak pernah bisa melakukan suatu tindakan tanpa mengambil risiko di baliknya,” ujar Prof Julian Savulescu selaku Kepala Uehiro dari Etik Praktikal Universitas Oxford, dikutip dari BBC, Rabu, 12 Januari 2022.

Prof Julian menambahkan bahwa penting bagi pasien untuk diberikan banyak opsi, termasuk dukungan mekanis jantung atau transplantasi dari manusia. Para dokter yang terlibat dalam kasus David menjelaskan bahwa sudah tak ada lagi opsi lainnya yang bisa menyelamatkan nyawanya, selain transplantasi jantung babi.

Isu terkait hak-hak hewan pun menjadi isu berikutnya yang tidak bisa dikesampingkan. Seekor hewan yang sengaja dimanipulasi genetiknya untuk didonorkan organ tubuhnya ke manusia adalah sebuah penyiksaan, menurut beberapa kelompok pecinta hewan.

“Hewan bukanlah semacam alat sederhana yang bisa “digunakan” begitu saja. Mereka adalah makhluk yang juga kompleks dengan intelligence,” demikian pernyataan People for the Ethical Treatment of Animals (PETA).

Namun demikian, Dr Katrien Devolder selaku anggota dari bioethics Universitas Oxford mengatakan bahwa kita bisa saja menggunakan hewan yang telah dimodifikasi genetiknya untuk donor ke manusia dengan jaminan hewan tersebut tidak mengalami penderitaan yang tak perlu.

“Mengambil babi untuk diolah menjadi daging konsumsi tentu lebih problematik ketimbang menggunakannya sebagai sarana untuk menyelamatkan nyawa manusia. Namun, ini juga bukan berarti kita bisa mengabaikan kesejahteraan hewan,” terang Katrien.

Tetapi di luar itu semua, masalah keyakinan agama menjadi rintangan kuat untuk kelancaran transplantasi organ hewan ke manusia di waktu yang akan datang.

Islam dan Yahudi adalah dua agama yang menentang penggunaan babi sebagai bahan konsumsi. Namun, ada pengecualian bila digunakan untuk menyelamatkan nyawa manusia.

“Sejauh tujuannya adalah untuk menyelamatkan manusia, maka penggunaan jantung babi sebagai transplantasi untuk manusia diperbolehkan. Menerima donor jantung babi tidak melanggar aturan apapun dalam agama Yahudi,” ucap Dr Moshe Freedman, rabi senior yang bertugas di bagian Penasihat Moral dan Etika Departemen Kesehatan Inggris.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dar al-Ifta yang merupakan badan fatwa Mesir. Penggunaan jantung babi untuk transplantasi diperbolehkan demi kesehatan dan keberlangsungan hidup seseorang.

Continue Reading
Advertisement
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in International

To Top