Highlight:
- Jumlah korban kecelakaan KA Bekasi Timur bertambah menjadi 15 orang meninggal dunia
- 10 jenazah masih dalam proses identifikasi di RS Polri Kramat Jati
- Korban luka tersebar di 11 rumah sakit, sebagian sudah dipulangkan untuk rawat jalan
Jakarta- Jumlah korban dalam kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur terus bertambah dan masih dalam penanganan intensif lintas fasilitas kesehatan.
Hingga Selasa sore (28/4/2026), tercatat 15 orang meninggal dunia, sementara korban luka dirawat di berbagai rumah sakit di wilayah Bekasi.
“Iya, ada 15 meninggal dunia,” kata Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, Kombes Pol dr. Martinus Ginting kepada wartawan di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4/2026).
Dari total korban meninggal, proses identifikasi belum sepenuhnya rampung.
Sebanyak 10 jenazah masih dalam tahap identifikasi oleh tim gabungan Dokkes Mabes Polri, Polda Metro Jaya, dan Polres Bekasi Kota di RS Polri Kramat Jati.
Di sisi lain, penanganan korban luka dilakukan secara tersebar.
Berdasarkan informasi di posko darurat RSUD Kota Bekasi, korban kecelakaan dilarikan ke 11 rumah sakit berbeda di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi untuk mempercepat penanganan medis.
Sebagian korban dengan luka ringan bahkan sudah mulai dipulangkan.
“Sebanyak 15 orang sudah pulang tadi pagi, karena memang bisa lanjut rawat jalan,” ujar Direktur Utama RSUD Kota Bekasi Ellya Niken Prastiwi, Selasa (28/4).
Di ruang forensik RS Polri, proses identifikasi berjalan dengan keterbatasan data antemortem yang masih terus dikumpulkan.
Di tempat terpisah, Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati Brigjen Pol dr. Prima Heru menyebut, hingga kini baru tujuh keluarga yang melapor.
“Keluarga yang sudah melaporkan ke posko antemortem sampai saat ini sebanyak tujuh keluarga,” kata Prima.
Alur kedatangan jenazah juga mencerminkan proses evakuasi yang berlangsung bertahap sejak dini hari. Jenazah pertama tiba sekitar pukul 03.00 WIB, disusul gelombang berikutnya beberapa jam kemudian.
Metode identifikasi dilakukan melalui pencocokan data forensik, mulai dari struktur gigi hingga dokumen yang memiliki sidik jari seperti ijazah. Namun, proses ini tidak dapat dipercepat.
“Kami usahakan selesai hari ini. Karena kan DVI kan enggak bisa. Kadang-kadang nanti ada kesulitan yang lain,” kata dia.
Dengan korban yang tersebar di berbagai rumah sakit dan sebagian belum teridentifikasi, penanganan pascakecelakaan ini menunjukkan kompleksitas yang tidak hanya terjadi di lokasi kejadian, tetapi juga dalam proses medis dan administrasi setelahnya. (*)