Mengintip Pamor Keris Seharga Rp4,5 Miliar

Aura Naga Raja dari Era Sultan Agung yang Membius Solo

Solo, Jawa Tengah- Di balik etalase kaca Museum Keris Nusantara, satu pusaka langsung mencuri perhatian. Bukan sekadar indah, tetapi menyimpan jejak sejarah panjang. Namanya: Kanjeng Kyai Naga Raja.

Keris ini dipamerkan dalam ajang “Infobank: Solo Art and Culture Exhibition” menyambut Hari Perkerisan yang jatuh pada 19 April 2026, dan seketika menjadi magnet pengunjung. Banyak yang berhenti lebih lama, menatap detailnya seolah mencoba menangkap makna di balik bilahnya.

Dari dekat, keris ini tampil sebagai karya seni tingkat tinggi. Bilahnya berluk sembilan, dihiasi pamor Pedaringan Kebak sebagai simbol kemakmuran. Yang paling mencolok adalah ukiran naga bermahkota yang membentang dari pangkal hingga ujung bilah, sebagian dilapisi tatahan emas.

Dalam dunia perkerisan, bentuk ini dikenal sebagai dhapur Naga Raja, lambang kekuasaan dan kewibawaan, yang secara tradisi lekat dengan kalangan bangsawan.

Keris ini berasal dari tangguh (periode) Sultan Agung dari Kesultanan Mataram. Pada masa itu, keris bukan sekadar senjata, melainkan simbol legitimasi raja menghubungkan kekuatan lahir dan batin.

Kemewahannya juga tampak pada warangka gaya Ladrang Surakarta yang elegan, serta ukiran gagang dengan detail halus dan cincin berhias batu.

Kombinasi bilah langka, pamor kuat, dan balutan artistik menjadikannya bukan hanya artefak, tetapi objek prestise.

Tak heran, keris ini ditaksir bernilai Rp4,5 miliar. Di kalangan kolektor, angka itu justru dianggap sepadan bahkan relatif rendah untuk pusaka dengan nilai sejarah, kelangkaan, dan simbolisme setinggi ini.

Keris ini merupakan koleksi KPA. Wiwoho Basuki Tjokronegoro, kolektor sekaligus pemerhati budaya yang aktif merawat warisan perkerisan.

Melalui pameran ini, KPA. Wiwoho Basuki Tjokronegoro menegaskan bahwa keris lebih dari sekadar pusaka. Keris seperti Kanjeng Kyai Naga Raja berdiri sebagai pengingat bahwa bahwa keris bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan akar budaya yang dalam dan warisan hidup.

Dan di Solo, kota yang masih berdenyut dengan tradisi, pusaka itu seakan berbisik pelan
tentang raja, tentang kekuasaan, tentang keseimbangan semesta. Bukan sekadar keris. Ini adalah cerita yang ditempa dalam logam, diwariskan dalam waktu. (*) Ranu Arasyki Lubis

fadli zonKeriskeris keramatKeris Kyai Sengkelatpameran keris infobankSolo
Comments (0)
Add Comment