Alun-Alun Kota Serang Rp50 Miliar: Estetika Tanpa Fungsi Adalah Pemborosan yang Dandan

Highlights:

  • Gelontoran anggaran Rp50 miliar untuk merombak wajah Alun-Alun Kota Serang di era Wali Kota Budi Rustandi dan Wakil Wali Kota Nur Agis Aulia kini resmi masuk meja lelang. Publik menyambut, tetapi dengan catatan tebal: jangan berhenti di “indah dipandang”.
  • Tolok ukur keberhasilan bukan di tender 3D atau marmer yang mengilap. Melainkan ketika alun-alun itu bangun pagi sebagai arena olahraga warga, siang jadi ruang rekreasi keluarga, malam berubah panggung ekspresi komunitas. Terbuka, inklusif, tanpa sekat.
  • Jika Rp50 miliar hanya berhenti di trotoar baru dan lampu taman, maka ia cuma pemborosan yang berdandan. Namun, jika ia melahirkan ruang yang menghidupkan olahraga, ekonomi, dan interaksi warga, maka ia akan jadi warisan.

Serang – Gelontoran anggaran Rp50 miliar untuk merombak wajah Alun-Alun Kota Serang di era Wali Kota Budi Rustandi dan Wakil Wali Kota Nur Agis Aulia kini resmi masuk meja lelang. Publik menyambut, tetapi dengan catatan tebal: jangan berhenti di “indah dipandang”.

Bagi warga, revitalisasi ruang publik paling sentral di Ibu Kota Banten ini adalah ujian. Ujian apakah uang rakyat benar-benar menjelma manfaat, bukan sekadar monumen baru untuk swafoto.

Arie Budiarto, pemerhati kebijakan publik, menyebut proyek ini tepat, asal orientasinya lurus. “Kita dukung penuh. Tapi kota ini tidak butuh etalase. Yang dibutuhkan warga adalah ruang hidup,” ujarnya kepada The Asian Post, Selasa (21/4).

Baginya, tolok ukur keberhasilan bukan di tender 3D atau marmer yang mengilap. Melainkan ketika alun-alun itu bangun pagi sebagai arena olahraga warga, siang jadi ruang rekreasi keluarga, malam berubah panggung ekspresi komunitas. Terbuka, inklusif, tanpa sekat.

Arie menekankan pentingnya dampak ekonomi bagi masyarakat. “Selama ini alun-alun dan UMKM seperti dua sisi mata uang: selalu ada, tapi jarang saling menguatkan,” ujar Arie yang dikenal sebagai Ganjar Pranowo KW karena kemiripan wajahnya dengan Capres 2024 itu.

“Kalau ditata benar, alun-alun bisa jadi jantung ekonomi mikro. Pedagangnya jangan cuma digeser lalu dibiarkan tiarap. Mereka harus naik kelas: kurasi, branding, akses permodalan,” tegas Arie.

Revitalisasi Rp50 miliar, kata dia, baru bermakna jika omzet para pedagang ikut terefitalisasi.

Dengan nilai proyek sebesar itu, sorotan berikutnya ke penyedia jasa. Arie mengingatkan: ini wajah kota, bukan proyek coba-coba.

“Anggarannya besar, lokasinya di pusat kota. Tidak ada ruang untuk kerja asal jadi. Kualitas harus sesuai spesifikasi dan RAB. Hasilnya wajib bisa dipertanggungjawabkan, teknis maupun sosial,” ujarnya.

Karena itu, transparansi lelang jadi harga mati. Sebab sekali publik curiga, sehebat apa pun desainnya akan selalu terlihat miring.

Revitalisasi Alun-Alun Kota Serang adalah bagian dari ikhtiar menata ruang publik agar lebih representatif. Namun representasi yang ditagih warga 2026 ini bukan lagi soal estetika tunggal.

“Intinya sederhana,” pungkas Arie, “masyarakat butuh yang terasa, bukan sekadar terlihat.”

Jika Rp50 miliar hanya berhenti di trotoar baru dan lampu taman, maka ia cuma pemborosan yang berdandan. Namun jika ia melahirkan ruang yang menghidupkan olahraga, ekonomi, dan interaksi warga, maka ia akan jadi warisan.

Bola kini ada di Pemkot dan kontraktor pemenang lelang: mau membangun monumen, atau membangun kehidupan. DW

alun-alunalun-alun Kota SerangbantenKota Serang
Comments (0)
Add Comment