Highlight:
- Infobank Media Group melalui rangkaian Women Art & Society 2026 mendorong 500 pelaku usaha ultra mikro yang mayoritas perempuan naik kelas lewat disiplin finansial.
- Lebih dari 12 ribu UMKM di Surakarta: pengelolaan arus kas, pencatatan keuangan, dan digitalisasi jadi kunci bertahan dan ekspansi.
- Risiko pinjol ilegal hingga arus kas tak terkontrol jadi ancaman nyata, literasi keuangan dan digitalisasi jadi tameng utama UMKM agar tidak terjebak utang dan tetap tumbuh.
Solo, Jawa Tengah- Tekanan ekonomi 2026 makin terasa di level paling bawah dan UMKM ultra mikro tak punya banyak ruang untuk salah langkah. Di Surakarta, ratusan pelaku usaha kecil kini didorong membenahi satu hal krusial, yakni cara mereka mengelola uang.
Infobank Media Group melalui rangkaian Women Art & Society 2026 mengumpulkan 500 pelaku usaha ultra mikro, mayoritas perempuan, dalam agenda literasi dan edukasi keuangan.
Fokusnya bukan teori, melainkan praktik sederhana yang sering diabaikan: arus kas, pencatatan, dan disiplin finansial.
Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, menggarisbawahi besarnya peran sektor ini. Lebih dari 12 ribu UMKM kini menjadi tulang punggung ekonomi kota dan terus bertambah. Namun, tanpa fondasi keuangan yang kuat, pertumbuhan itu berisiko rapuh.
“Yang paling penting tentu tidak lebih besar pasak daripada tiang atau lebih besar pengeluaran daripada pendapatan,” katanya.
Masalah klasik yang masih berulang: keuangan usaha bercampur dengan pribadi, tidak ada pencatatan, dan arus kas yang tak terkontrol.
Padahal, kebiasaan sederhana seperti mencatat pemasukan dan pengeluaran sudah menjadi titik awal untuk menjaga kesehatan usaha. Tanpa itu, pelaku usaha berjalan tanpa arah—tidak tahu untung atau sekadar berputar.
Astrid menekankan lima prinsip utama yang wajib diterapkan, yakni perencanaan, pengendalian, pengelolaan arus kas, penyediaan cadangan, dan evaluasi berkala. Tanpa disiplin pada lima hal ini, usaha sulit bertahan dalam jangka panjang.
Digitalisasi dan Risiko: Dua Sisi yang Tak Bisa Dipisahkan
Dorongan berikutnya adalah digitalisasi. UMKM tak lagi bisa mengandalkan cara konvensional jika ingin berkembang.
Pemanfaatan media sosial, e-commerce, hingga aplikasi pencatatan keuangan menjadi alat penting untuk memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi.
“Digitalisasi UMKM sangat penting, selain efisien bisa juga membantu memperluas pasar,” ujarnya.
Digitalisasi memberi peluang nyata. Transaksi menjadi lebih cepat, jangkauan pasar lebih luas, dan pengelolaan keuangan lebih transparan. Bagi pelaku ultra mikro, ini bukan sekadar inovasi melainkan kebutuhan.
Namun, di balik peluang itu, risiko juga mengintai. Maraknya pinjaman online ilegal dan praktik rentenir digital menjadi ancaman serius.
Tanpa literasi keuangan yang memadai, pelaku usaha rentan terjebak utang berbunga tinggi yang justru menghambat pertumbuhan usaha.
Pemerintah Kota Surakarta telah menyediakan layanan konsultasi usaha. Tetapi pada akhirnya, ketahanan usaha ditentukan oleh kedisiplinan pelaku itu sendiri dalam mengelola keuangan.
Di titik ini, literasi keuangan menjadi pembeda yang tegas: siapa yang mampu naik kelas, dan siapa yang tertinggal. (*) Ari Nugroho
Editor: Ranu Arasyki Lubis