Connect with us

Maret 2019, Daya Beli Petani Turun

(Foto: istimewa)

Economy

Maret 2019, Daya Beli Petani Turun

THE ASIAN POST, JAKARTA ― Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Maret 2019 turun 0,21 persen, dibanding NTP bulan sebelumnya.

Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,02 persen, lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,23 persen.

Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib).

NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan.

NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Dalam rilisnya, Senin (1/4), BPS menyebut, NTP nasional Maret 2019 sebesar 102,73 atau turun 0,21 persen dibanding NTP bulan sebelumnya.

Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,02 persen, lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,23 persen.

Pada Maret 2019, NTP Provinsi DKI Jakarta mengalami penurunan terbesar (2,43 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami kenaikan tertinggi (1,41 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya.

Pada Maret 2019 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,33 persen, dengan kenaikan indeks tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran bahan makanan.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Maret 2019 sebesar 111,14 atau turun 0,04 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.

Dari 2.135 transaksi penjualan gabah di 28 provinsi selama Maret 2019, tercatat transaksi gabah kering panen (GKP) 69,04 persen, gabah kering giling (GKG) 8,99 persen, dan gabah kualitas rendah 21,97 persen.

Selama Maret 2019, rata-rata harga GKP di tingkat petani Rp4.604,00 per kg atau turun 9,98 persen dan di tingkat penggilingan Rp4.706,00 per kg atau turun 9,87 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada Februari 2019.

Rata-rata harga GKG di tingkat petani Rp5.530,00 per kg atau turun 5,11 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.654,00 per kg atau turun 5,01 persen. Harga gabah kualitas rendah di tingkat petani Rp4.296,00 per kg atau turun 6,93 persen dan di tingkat penggilingan Rp4.393,00 per kg atau turun 6,95 persen.

Dibandingkan Maret 2018, rata-rata harga pada Maret 2019 di tingkat petani untuk kualitas GKP dan gabah kualitas rendah mengalami penurunan masing-masing 3,22 persen dan 1,63 persen, sedangkan GKG mengalami kenaikan 1,62 persen.

Demikian juga di tingkat penggilingan, BPS menyatakan, rata-rata harga pada Maret 2019 dibandingkan dengan Maret 2018 untuk GKP dan gabah kualitas rendah juga mengalami penurunan masing-masing 2,87 persen dan 1,61 persen, sedangkan GKG mengalami kenaikan 1,78 persen.

Pada Maret 2019, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp9.815,00 per kg, turun sebesar 1,93 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Selanjutnya, rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp9.555,00 per kg, turun sebesar 2,49 persen. Sementara rata-rata harga beras kualitas rendah di penggilingan sebesar Rp9.271,00 per kg, turun sebesar 2,15 persen.

Dibandingkan dengan Maret 2018, rata-rata harga beras di penggilingan pada Maret 2019 untuk semua kualitas yaitu premium, medium, dan rendah mengalami penurunan masing-masing 0,79 persen, 1,47 persen, dan 2,96 persen. []

Continue Reading
Advertisement
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

More in Economy

Most Popular