Pasca Kiamat Saham MSCI, Ini 4 Saham yang Bakal Diburu Investor

Headlights:

  • IHSG dibuka koreksi 6,5 persen karena pengumuman dari MSCI terkait pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), tak ada penambahan saham Indonesia yang baru ke indeks MSCI, dan saham Indonesia tidak bisa naik ke kelas indeks yang lebih tinggi.
  • Jika pasar saham RI tak melakukan perbaikan transparansi, maka berpotensi terjadi foreign outflow dan status Indonesia bisa diturunkan dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
  • Terkait hal ini, investor perlu mencermati beberapa hal, yakni kondisi fundamental yang solid, mampu membayar dividen dengan yield yang atraktif, komoditas tertentu seiring dengan pembatasan supply yang mendorong kenaikan harga komoditas global, serta melakukan aksi korporasi tertentu dengan risk to reward yang menarik.

Jakarta — IHSG dibuka dengan koreksi masif sebesar -6,5% yang disebabkan oleh pengumuman terbaru dari MSCI tentang 3 langkah sementara dari hasil peninjauan transparansi kepemilikan saham di Indonesia.

Tiga langkah sementara yang diambil oleh MSCI adalah sebagai berikut:

Satu, MSCI membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham yang dihitung di indeks. Artinya, bobot saham Indonesia di indeks global tidak bisa naik.

Dua, MSCI tidak akan menambahkan saham Indonesia yang baru ke indeks MSCI (termasuk hasil IPO atau saham lain yang memenuhi syarat).

Tiga, saham Indonesia tidak bisa naik ke kelas indeks yang lebih tinggi (misalnya dari Small Cap ke Standard Index).

Langkah ini bertujuan mengurangi risiko bagi investor global sambil menunggu perbaikan transparansi pasar di Indonesia dengan batas waktu sampai Mei 2026.

Apa risiko terburuk yang mungkin terjadi sebagai effect domino dari tiga langkah yang diambil MSCI?

Jika sampai Mei 2026, tidak ada perbaikan yang memadai, maka MSCI akan meninjau ulang status pasar Indonesia.

Dampak yang mungkin terjadi: Satu, bobot Indonesia di indeks MSCI EM bisa dikurangi sehingga ada potensi foreign outflow dari para investor asing pasif.

Dua, status Indonesia bisa diturunkan dari Emerging Market menjadi Frontier Market sehingga secara reputasi dianggap turun kelas.

Manajer Investasi Independen Syailendra Capital menilai, efek dari pengumuman MSCI ini mostly dirasakan oleh deretan saham momentum yang telah naik signifikan sejak 2-3 tahun terakhir dengan penurunan masif (~15%).

“Momentum tren Index Contenders (narasi indexing) mulai menunjukkan pelemahan dan terdapat indikasi telah mencapai puncaknya,” tulisnya, Rabu (28/1).

Ke depannya, menurut Syailendra, investor akan kembali mencermati pilihan saham yang berfokus kepada empat hal ini.

Satu, kondisi fundamental yang solid (growth earnings terjaga).

Dua, mampu membayar dividen dengan yield yang atraktif.

Tiga, komoditas tertentu seiring dengan pembatasan supply yang mendorong kenaikan harga komoditas global.

Empat, melakukan aksi korporasi tertentu dengan risk to reward yang menarik. DW

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.