Connect with us

OJK: Tren Investasi di Pasar Modal Naik, Jumlah Investor Sentuh 10 Juta

Foto: NET

Business

OJK: Tren Investasi di Pasar Modal Naik, Jumlah Investor Sentuh 10 Juta

Jakarta— Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan jumlah investor di pasar modal secara nasional terus mengalami peningkatan.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi menyebut, hingga 31 Oktober 2022 jumlah investor pasar modal mencapai 9,97 juta atau meningkat sembilan kali lipat dalam lima tahun terakhir. Bahkan, katanya, per hari jumat kemarin, 04 November 2022 jumlah investor itu telah mencapai 10 juta lebih.

Jika melihat dari sisi kinerja pasar modal, beberapa indikator menunjukkan perkembangan yang positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mencapai 7.034,57 saham per 3 November 2022 dengan rerata nilai perdagangan harian hingga Rp15,04 triliun dengan kapitalisasi pasar yang mencapai Rp9.339 triliun.

“Dengan melihat berbagai indikator positif tersebut memberikan harapan positif bagi kita semua bahwa pasar modal Indonesia masih menarik minat bagi para perusahaan dan investor. Tidak hanya untuk memperoleh pendanaan, namun juga sebagai ladang untuk berinvestasi sehingga mampu bertahan melewati situasi ekonomi yang terus bergerak dinamis dengan resiliensi yang cukup baik,” ujarnya pada acara Sosialisasi Pasar Modal sebagai Alternatif Sumber Pendanaan Perusahaan, Selasa (8/11/2022).

Inarno mengatakan, sampai saat ini jumlah emiten saham, obligasi dan sukuk mencapai lebih dari 900 perusahaan. Sementara, perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai 810 perusahaan. Besarnya angka itu menunjukkan minat penghimpunan dana di pasar modal terus mengalami peningkatan.

Hingga 31 Oktober 2022 perhimpunan dana di pasar modal oleh perusahaan mencapai Rp224,9 triliun. Dia merinci, jumlah emiten baru tercatat sebanyak 57 emiten dan pipeline lebih dari 30 calon emiten. Pertumbuhan jumlah emiten Indonesia merupakan tertinggi di ASEAN dengan pertumbuhan pasar modal sebesar 40% sepanjang lima tahun terakhir.

“Kalau kita lihat dibandingkan Singapura. Singapura growth-nya malah negatif, dan Malaysia yang saat ini jumlahnya tertinggi di kawasan ASEAN, itu juga growth-nya flat saja antara 1-2%,” terangnya.

Dia menambahkan, kehadiran pasar modal diharapkan mampu menjadi solusi alternatif yang cukup menarik bagi perusahaan untuk memperkuat struktur permodalan di tengah ketatnya likuiditas dan kenaikan suku bunga perbankan dalam beberapa tahun terakhir.

Penulis/Editor: Ranu Arasyki

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

More in Business

Most Popular