Kritik Pedas Mochtar Lubis Bongkar 6 Sifat Manusia Indonesia

Wartawan tiga zaman sekaligus pelaku sejarah, Mochtar Lubis pernah menyampaikan pandangannya mengenai sifat-sifat yang khas melekat di dalam diri masyarakat Indonesia.

Sederet ucapan itu ia sampaikan di atas podium Taman Ismail Marzuki, Jakarta hingga dituangkan dalam sebuah buku berjudul Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab).

Kala itu, tepatnya 6 April 1977, apa yang keluar dari mulut pendiri Kantor Berita Antara ini membuat gusar hati pendengarnya. Lebih-lebih setelah publikasi bukunya meluas, pro dan kontra berseliweran di mana-mana.

Hampir semua sifat orang Indonesia di mata seorang Mochtar tak ada baiknya, dipandang sebagai bentuk olok-olok, dan bernada merendahkan.

Baca juga...

Barangkali, sinisme yang dilontarkan Mochtar itu merupakan otokritik populer terhadap rasa bangga terhadap diri sendiri atas keunggulan yang kerap dicitrakan memiliki sifat ramah dan mudah senyum, tenggang rasa, dan gemar bergotong royong.

Setelah lebih dari 40 tahun berlalu, bagi sejumlah pihak, pandangan Mochtar yang begitu tajam itu dianggap masih relevan dan mendarah daging di diri masyarakat Indonesia hingga saat ini.

Kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri, berita mengenai kasus korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dari tahun ke tahun tak pernah padam. Perhatikan saja, sudah berapa ratus orang yang ditangkap tapi tak juga kapok.

Dan lagi, di masa menjelang Pilkada dan Pilpres 2024 ini setiap bulannya ada saja pejabat yang terjerat kasus korupsi. Bahkan belum habis setahun, sudah ada dua menteri yang melakukan korupsi.

Jika dibandingkan dengan kehidupan masyarakat yang ada saat ini, apakah keenam sifat masyarakat Indonesia menurut Mochtar Lubis masih bisa dikatakan sama dengan sudut pandangnya yang dulu dikemukakan.

Mari kita simak, berikut adalah keenam sifat manusia Indonesia menurut pandangna Mochtar;

  1. Hipokritis dan Munafik

Sifat yang satu ini cukup menonjol di tengah kehidupan kita. Sistem feodal di masa lalu yang menekan rakyat Indonesia menjadi sumber dari hiprokisi yang dahsyat, baik datang dari urusan keagamaan, sosial, hingga masalah korupsi.

Agama datang untuk memperkaya kehidupan jiwa manusia Indonesia, namun tak sepenuhnya mampu dirasakan karena dihantarkan dengan kekerasan, paksaan, hingga persekutuan dengan kekuasaan lain. Begitu pula orang-orang yang menentang korupsi namun turut juga melakukan korupsi.

Banyak dari manusia Indonesia yang mengatakan bahwa hukum yang diterapkan dalam negeri ini telah bersikap adil, namun pada kenyataannya pencuri kecil masuk penjara, namun koruptor bebas keluar masuk penjara.

Kondisi tersebut tak berubah ketika kita mengingat kasus pencurian bambu yang dilakukan oleh sepasang nenek dan kakek di Gorontalo yang memaksa mereka disidangkan di Pengadilan Negeri Limboto. Kontras dengan pelaku korupsi besar yang beberapa kali lolos dari sidang.

  1. Enggan Bertanggungjawab atas Perbuatannya

Menurut Mochtar Lubis, kata “Bukan saya” adalah kalimat paling populer di mulut manusia Indonesia. Kesalahan yang dilakukan oleh atasan digeser ke bawahannya, dan terus dilakukan sampai pemegang jabatan paling bawah.

Sejumlah kasus korupsi yang terjadi di Indonesia hingga kini dilakukan tak hanya oleh pimpinan, namuna juga merambah ke pekerja bawahan mereka. Dari kasus tersebut, diduga ada sistem bagi hasil dari keuntungan yang didapat dari aksi korupsi mereka.

Salah satu kalimat familiar yang ada di tengah masyarakat perkotaan seperti Jakarta, terutama kalangan menengah ke bawah adalah “Saya hanya melaksakan perintah dari atasan.” Pernyataan tersebut hingga kini masih melekat pada banyak oknum keamanan untuk sekedar menutupi hati nurani mereka.

  1. Jiwa Feodal

Salah satu tujuan dari revolusi kemerdekaan Indonesia adalah membebaskan manusianya dari feodalisme. Namun pada kenyataannya, bentuk-bentuk feodalisme baru terus bermunculan hingga kini.

Sikap-sikap feodalisme dapat kita lihat dari bagaimana pemerintah kita dalam urusan jabatan, banyak yang masih mengutamakan hubungan atau kedekatan ketimbang kecakapan, pengalaman, maupun pengetahuannya. Jiwa feodal ini tumbuh subur tak hanya di kalangan atas, namun juga bawah.

Masalah feodalisme ini tidak lepas dalam kenyataan hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia kini. Politik ‘bagi kursi’ atau bagi-bagi jabatan yang terjadi dalam kancah politik Indonesia adalah salah satunya.

  1. Percaya Takhayul

Hal yang satu ini tak lepas dari kebudayaan dan tradisi bangsa Indonesia. Mereka masih percaya benda-benda disembah untuk memperoleh berkah. Tak jarang nyawa pun dipertaruhkan sebagai bagian dari persembahan.

Sampai saat ini pun, kita masih melihat secara nyata bagaimana banyak program televisi yang menayangkan hal-hal berbau magis dan gaib. Nyatanya, hal tersebut masih saja menghibur manusia Indonesia saat ini.

Tak hanya tayangan berbau takhayul, pengobatan yang mengandalkan dukun dan sihir pun masih terus dilakukan oleh masyarakat daerah di Indonesia. Kepercayaan itu terus dilakukan meski tak ada penelitian yang mampu membuktikan keabsahannya.

Pendidikan menjadi salah satu benteng yang kuat untuk menghalau pemikirian-pemikiran tersebut. Dengan pengetahuan yang memadai, hal tersebut akan mampu lebih dikaji ulang agar mampu diterima secara logika.

  1. Artistik

Kepercayaan yang menjadi bagian dari budaya manusia Indonesia rupanya membawa mereka tumbuh menjadi manusia yang dekat dengan alam. Hasilnya, manusia Indonesia memiliki daya artistik yang cukup tinggi.

Banyak hasil kerajinan masyarakat Indonesia yang diakui dunia. Sebut saja tembaga, batik, tenun, patung kayu dan batu, hingga ukirannya. Mereka adalah bagian dari daya imaginasi yang tumbuh subur di tengah masyarakat Indonesia.

Bagi Mochtar Lubis, ciri ini merupakan salah satu yang paling menarik dan memiliki pesonannya sendiri. Ciri ini mampu menjadi tumpuan hari depan manusia Indonesia.

  1. Watak yang Lemah

Berwatak lemah adalah alasan mengapa orang-orang Indonesia cenderung tidak berpikir jernih sehingga mudah terbawa arus dan terprovokasi.

Kelemahan inilah yang dahulu membuat orang-orang Eropa mudah mengelabui orang-orang Indonesia di masa penjajahan.

Sayangnya, bahkan sampai sekarang pun teknik adu domba masih begitu ampuh, khususnya di tahun politik.

Demikian 6 sifat khas masyarakat Indonesia menurut sudut pandang Mochtar Lubis.

Ucapannya itu mungkin ada benarnya dan masih relevan di masa kini atau justru semakin memburuk dengan kian berkembangnya dinamika kehidupan masyarakat kita.

Di tahun-tahun ini, di mana persaingan politik semakin kental, korupsi dianggap hal yang lumrah akan menjadi pembuktian benar atau tidaknya pandangan Mochtar tersebut. (*) RAL

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.