Kemenkeu PD Ekonomi RI Tumbuh 5,4 Persen Lebih di 2025 dan 2026, Ini Sebabnya
Headlights:
- Wamenkeu Suahasil Nazara menyatakan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi RI di 2025 dan 2026, yakni mencapai lebih dari 5,4 persen.
- Optimisme ini dilandaskan pada kebijakan counter cylical yang diambil pemerintah sepanjang 2025.
- Kondisi ekonomi global yang membaik di kuartal IV 2025 juga menjadi harapan atas pertumbuhan ekonomi RI ke depan.
Jakarta – Wakil Menteri Keuangan RI, Suahasil Nazara menyatakan optimismenya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk periode 2025, dan bahkan 2026. Suahasil optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2025 dan 2026 dapat melampaui 5 persen.
“Yang kita lihat bahwa pertumbuhan di atas 5 persen rasanya sesuatu yang bisa kita dapatkan di tahun 2025. Tahun 2026 rasanya juga akan lebih dari 5 persen. Kita di dalam APBN memikirkan sekitar 5,4 persen. Bahkan, lebih tinggi,” ujar Suahasil dalam acara CFO Club Indonesia: New Year’s Gathering 2026 di Hotel St Regis Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026.
Di samping itu, ia menerangkan, range inflasi Indonesia juga masih berada dalam rentang comfortable, yakni di kisaran 2,5+1 persen. Alias, tidak terlalu tinggi, tapi tidak terlalu rendah. Suahasil mengatakan, range inflasi yang berada di zona comfortable ini penting, guna memproyeksi revenue dan planning bisnis ke depan.
“Kalau terlalu rendah para CFO mikirin tentang berapa revenue-nya, berapa kenaikan harga dan sebagainya. Bila terlalu tinggi, membuat sulit untuk melakukan perencanaan planning dan sebagainya,” terangnya.
Optimisme ini tak bisa dipisahkan dari upaya kebijakan counter cylical yang dilakukan pemerintah. Suahasil mengingatkan kembali bagaimana perjalanan kebijakan pemerintah terkait perbendaharaan negara sepanjang 2025. Di awal 2025, ia mengingatkan peserta yang hadir terkait bagaimana kebijakan efisiensi anggaran belanja pemerintah dilakukan.
Kala itu, Presiden Prabowo meminta kementerian atau lembaga (K/L) untuk memangkas anggaran, dengan nilai total Rp306 triliun. Di tengah pemangkasan itu, pihaknya harus bisa memastikan program-program prioritas pemerintah tetap berjalan.
“Termasuk program untuk ketahanan pangan, untuk kilirisasi sumber daya alam, untuk makan bergizi gratis. Lalu, ada sovereign wealth fund kita membentuk Danantara, yang dinamikanya juga kita lihat sampai sekarang,” bebernya.
Kemudian, masuk ke kuartal II 2025, intensitas perang dagang mulai bereskalasi. Di kuartal ini, hampir negara-negara di dunia terkena tarif dari AS. Akibat tarif dagang yang mulai bereskalasi, semua negara, termasuk Indonesia, mulai memikirkan cara untuk menavigasikan diri di tengah tekanan perang tarif.
Paket stimulus berbasis konsumsi domestik mulai digalakkan lebih masif, seperti diskon transportasi, potongan tarif tol, penebalan bansos, bantuan subsidi upah, serta diskon iuran JKK 50 persen bagi pekerja di sektor padat karya.
“Kita melihat ini ada kemungkinan bahwa ekonominya akan terkena pressure, kena tekanan, maka kita mengeluarkan paket stimulus,” sebut Suahasil.
Memasuki kuartal III 2025, secercah harapan mulai terlihat dalam negosiasi tarif, dimana Indonesia berhasil menurunkan tarif yang dikenakan AS dari sebelumnya 32 persen ke 19 persen.
Akan tetapi, dari sisi internal, perekonomian Indonesia tengah diguncang oleh isu demonstrasi besar di akhir Agustus 2025.
“Lalu, Q4 tekanan globalnya mereda. Prospek global ekonominya membaik. Ini bisa dilihat bahwa indeks PMI kita kembali naik di Oktober, November, dan Desember di atas angka 50, menunjukkan ekspansi dari dunia usaha masih terjadi,” tukas Suahasil. SW


