Disertasi Kepemimpinan Kolaboratif Taufiq Shobri Sumbang Pemikiran Atasi Konflik Papua
Jakarta- Dunia sedang menghadapi kondisi BANI (Brittle, Anxious, Nonlinear, Incomprehensible) yang merupakan evolusi dari era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity).
Jika VUCA berfokus pada ketidakpastian situasi, BANI menyoroti dampak emosional dan kerusakan sistemik. Kondisi tersebut menggambarkan dunia saat ini yang lebih kacau, rapuh, dan sulit diprediksi, sehingga menimbulkan risiko konflik antar-negara maupun domestik yang disertai dengan kekerasan senjata.
Ketahanan dan adaptasi yang lebih cepat sangat dibutuhkan dalam menghadapi konflik yang disertai dengan kekerasan bersenjata. Contohnya bagaimana menghadapi konflik Papua di negara Indonesia.
Sebuah disertasi berjudul “Model Kepemimpinan Kolaboratif Hubungan Sipil dan Militer guna Penyelesaian Konflik di Papua dalam rangka Mendukung Pertahanan Negara” yang ditulis Mayor Jenderal TNI Taufiq Shobri menggambarkan realitas tersebut.
Dalam Sidang Terbuka Program Doktoral Ilmu Pertahanan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan), di Gedung Aula Merah Putih Kampus Bela Negara Unhan, Sentul, Bogor, pada 5 Maret 2026, Taufiq Shobri memaparkan hasil penelitiannya yang berangkat dari realitas konflik bersenjata domestik di Papua yang bersifat persisten, multidimensional, dan kompleks, mencakup dimensi keamanan, politik, sosial ekonomi, serta identitas budaya.
“Dalam perspektif Ilmu Pertahanan, konflik tersebut diposisikan sebagai bagian dari spektrum ancaman terhadap pertahanan negara yang berdampak langsung pada ketahanan nasional dan integritas wilayah,” ujar promovendus yang dipromotori Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.Sc., M.A., Ph.D bersama Brigjen TNI Dr. R. Djoko Andreas Navalino, S.IP., M.A.B., dan Kolonel Laut (K) Dr. Sutanto, SKM., M.A.P., M.Sc., CIPA.

Hasil penelitian menegaskan bahwa tata kelola konflik Papua selama ini masih cenderung sektoral, linear, dan fragmentatif. Sementara, dinamika lingkungan strategis kontemporer ditandai oleh karakteristik VUCA dan BANI yang menuntut pendekatan adaptif, sistemik, dan terintegrasi.
“Model Trias Kolaboratif Papua menegaskan bahwa penyelesaian konflik domestik bersenjata yang persisten memerlukan arsitektur kepemimpinan nasional yang terinstitusionalisasi, lintas sektor, dan berorientasi pada integrasi sistem pertahanan semesta,” ujar alumni Akademi Militer 1993 yang kini menjadi Staf Ahli Bidang Ideologi dan Politik Badan Intelijen Negara.
Secara strategis, temuan penelitian memberikan kerangka konseptual bagi pemangku kebijakan dalam memperkuat integrasi sipil militer dalam sistem pertahanan semesta, serta membangun tata kelola konflik domestik yang adaptif, terkoordinasi, dan berkelanjutan.

“Secara akademis, disertasi ini memperluas kajian Ilmu pertahanan dengan menghadirkan model kepemimpinan kolaboratif yang secara spesifik dirancang untuk konteks konflik bersenjata domestik,” ujar Rektor Unhan, Letjen TNI (Purn) Dr. Anton Nugroho, M.M.D.S., M.A, yang menjadi salah satu penguji sidang terbuka.
Penguji lainnya adalah Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daihani, DEA, Prof. Dr. Willy Arafah, MM., DBA, Mayjen TNI Dr. Mitro Prihantoro, S.AP., M.Sc., Mayjen TNI Purn Dr. Joni Widjayanto, S.Sos., M.M., CIQnR., CIQaR., CIPA, Dr. Herlina Juni Risma Saragih, M.Si. (KM)


