Budaya sebagai Engine of Growth, Fadli Zon Soroti Peran Keris di Infobank SLE Awards
Jakarta– Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan bahwa kebudayaan Indonesia harus ditempatkan sebagai kekuatan ekonomi strategis nasional, bukan sekadar simbol identitas atau warisan masa lalu.
Di tengah keterbatasan sumber daya alam dan tekanan ekonomi global, budaya dinilai menjadi sektor yang paling berkelanjutan dan bernilai tinggi bagi masa depan Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Fadli Zon dalam diskusi budaya bertema “Pembangunan Ekonomi Berbasis Seni dan Pelestarian Budaya” pada ajang Infobank SLE Awards 2026, yang dilangsungkan di The St. Regist, pada Kamis (22/1).
“Budaya Indonesia justru sebenarnya bisa menjadi satu engine of growth, karena kebudayaan ini sebenarnya adalah soft power,” ujarnya.
Menurut Fadli, Indonesia memiliki modal budaya yang jauh melampaui banyak negara yang saat ini sukses mengembangkan cultural and creative industry.
Dengan lebih dari 1.340 kelompok etnik dan 718 bahasa, sekitar 10% dari total bahasa dunia, Indonesia menyimpan kekayaan budaya yang ia sebut sebagai mega diversity.
“Saya bersaksi, tidak ada kekayaan dan keragaman budaya yang lebih hebat dari Indonesia,” ujarnya.
Fadli Zon juga menyoroti pengakuan dunia terhadap peradaban Indonesia. Ia mengungkap hasil riset terbaru yang dipublikasikan jurnal Nature mengenai lukisan purba tertua di dunia berusia 67.800 tahun yang ditemukan di Sulawesi. Kata dia, temuan ini mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu pusat peradaban tertua dunia.
Dalam konteks pemanfaatan ekonomi, Fadli memaparkan lonjakan signifikan sektor kebudayaan sejak berdirinya Kementerian Kebudayaan.
Jumlah cagar budaya nasional meningkat tajam menjadi 313 situs, sementara warisan budaya tak benda mencapai 2.727 entri. Dampaknya terlihat nyata pada sektor museum, dengan kunjungan ke Museum Nasional melonjak hingga 400%.

Pameran Keris di Infobank SLE Awards 2026
Di luar narasi kebijakan, Infobank SLE Awards 2026 juga menampilkan praktik konkret ekonomi budaya melalui pameran keris, dari koleksi tokoh-tokoh nasional dan pelaku industri keuangan.
Presiden RI Prabowo Subianto, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Anggota BPK Fathan Subchi, hingga sejumlah pimpinan lembaga keuangan nasional turut memamerkan koleksi kerisnya.
Fadli Zon memberikan apresiasi khusus terhadap pameran tersebut. Menurutnya, selain bernilai historis dan simbolik, keris telah diakui UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage sejak 2005 dan dinilai memiliki potensi besar dalam ekosistem ekonomi budaya nasional.
“Budaya tidak akan pernah habis. Karena itulah negara-negara maju sebenarnya menyandarkan sekarang kepada cultural and creative industry. Termasuk di dalamnya keris. Karena saya kebetulan juga Ketua Umum SNKI (Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia). Jadi ini juga bagian yang sudah menjadi Intangible Cultural Heritage UNESCO. KERIS itu sudah diakui oleh UNESCO tahun 2005 yang lalu. Jadi 20 tahun yang lalu,” tegas Fadli.
Ia menilai pameran keris di Infobank bukan sekadar ajang seremonial, melainkan etalase soft power Indonesia yang mempertemukan budaya dengan sektor keuangan dan bisnis.
Fadli juga mendorong keterlibatan sektor swasta melalui skema insentif, termasuk wacana tax incentive bagi pihak yang berkontribusi dalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan.
Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat transformasi budaya menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Menutup paparannya, Fadli Zon menegaskan bahwa budaya memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai jati diri dan juga sebagai kekuatan pemersatu bangsa. Di tengah polarisasi politik dan dinamika global, budaya justru menjadi elemen yang menyatukan sekaligus menghasilkan nilai ekonomi nyata bagi Indonesia. (*) Ranu Arasyki Lubis


