Biadab! Motif Trump Serang Iran Ternyata Mau Jualan Senjata di Teluk
Jakarta- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerang Iran ternyata motifnya ekonomi: jualan senjata ke negara-negara di kawasan Teluk dengan mengadu-domba mereka terlebih dulu. Biadab!
Motif Trump tersebut terlihat jelas dari serangan militer AS ke depot minyak Iran di Teheran bagian utara, Minggu (8/3) kemarin.
Serangan tersebut berdampak luas ke Iran. Anehnya, pasca-serangan tersebut, yang dijadikan kambing hitam oleh media mainstream di Israel adalah Uni Emirat Arab.
“Inilah cara-cara mereka mengadu domba. Sebelumnya mereka menyerang depot minyak di Saudi lalu dituduhnya Iran pelakunya. Sekarang mereka serang depot minyak Iran kemudian yang dituduh Saudi,” ujar pengamat Timur Tengah, Muhammad Husein, dikutip The Asian Post dari kanal medsosnya, Senin (9/2).
Menurut Husein, di balik framing yang menggunakan media Israel itu, AS dan Israel memulai perang namun ingin negara-negara di kawasan Teluk ikut terlibat.
Setelah mereka terlibat, AS dan Israel pelan-pelan menarik diri, mundur, sehingga perangnya menjadi Iran dengan negara-negara Teluk,” jelas Husein.
Dan, setelah AS dan Israel mundur, kata Husein, mereka tinggal jualan senjata ke negara-negara yang dilibatkan ikut perang tersebut. “Itulah jahatnya Amerika dan Israel,” tandasnya.
Namun yang menarik, lanjut Husein, Presiden AS Donald Trump menegaskan kehancuran militer Iran. Namun, Juru Bicara Garda Revolusi Iran, Ali Mohammad Naini, justru menyatakan kesiapannya untuk perang dalam skala yang lebih besar, paling tidak untuk enam bulan ke depan, dengan intensitas seperti sepekan terakhir.
Seperti apa intensitas serangan Iran dalam 7 hari terakhir?
“Mereka meluncurkan 2.600 drone dan menembakkan 600 rudal. Jadi, rata-rata mereka meluncurkan 400 drone per hari untuk menyerang pangkalan militer Amerika dan wilayah Tel Aviv,” ungkapnya.
Jadi intinya, kata dia, Iran ingin memberikan pesan kepada Amerika, jika mereka menginginkan perang habis-habisan, Iran sangat siap.
“Pertanyaannya, apakah Amerika siap?” tutupnya. (DW)


