Bos Home Credit Ingatkan 500 Pelaku UMKM Wanita di Solo Pentingnya Jaga Riwayat Kredit
Sylvia Lazuarni, Direktur Home Credit Indonesia dalam kegiatan “Literasi dan Edukasi Keuangan Bersama 500 Pelaku Usaha Ultra Mikro: Peran Wanita Mandiri bagi Perekonomian Negeri” yang digelar oleh Infobank Media Group, sebagai bagian dari rangkaian acara Women Art & Society 2026, di Balaikota Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (17/4). (Foto: Tangkapan layar)Highlight:
- Riwayat kredit yang tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi acuan utama bagi lembaga keuangan dalam menilai kelayakan calon debitur. Maka itu, menjaga riwayat kredit tetap baik menjadi sangat penting.
- Riwayat kredit menjadi kunci utama untuk memperoleh akses pembiayaan di masa depan. Masyarakat yang memiliki riwayat pembayaran kredit yang baik—yakni disiplin dan tepat waktu—akan lebih mudah memperoleh akses pembiayaan, termasuk untuk kebutuhan konsumtif maupun usaha.
- Masyarakat didorong untuk mengecek nilai SLIK ke OJK. Pengecekan ini bisa dilakukan secara online ataupun mendatangi kantor-kantor OJK. Pengecekan ini juga penting untuk mengetahui apakah data-data kita, misalnya kartu tanda penduduk (KTP) disalahgunakan oleh orang tidak bertanggungjawab untuk melakukan pinjaman.
Solo — Riwayat kredit yang tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi acuan utama bagi lembaga keuangan dalam menilai kelayakan calon debitur. Maka itu, menjaga riwayat kredit tetap baik menjadi sangat penting.
Hal itu diungkapkan Sylvia Lazuarni, Direktur Home Credit Indonesia dalam kegiatan “Literasi dan Edukasi Keuangan Bersama 500 Pelaku Usaha Ultra Mikro: Peran Wanita Mandiri bagi Perekonomian Negeri” yang digelar oleh Infobank Media Group, sebagai bagian dari rangkaian acara Women Art & Society 2026, di Balaikota Surakarta, Jawa Tengah, Jumat, 17 April 2026.
Sylvia memaparkan bahwa riwayat kredit akan dilihat dari seluruh transaksi kredit kita di masa lalu. Semua itu terdata di sistem OJK. Data itu akan menghasilkan kredit skor setiap orang, biasanya dalam rengant 1-5. Skor 1 menandakan riwayat kredit yang baik. Dengan kata lain, bank atau perusahaan pembiayaan bisa melihat calon debitur ini memiliki risiko rendah.
Sedangkan skor 5 menandakan adanya riwayat kredit macet atau gagal bayar, sehingga calon debitur dinilai berisiko tinggi. Calon debitur dengan kredit skor tinggi atau berisiko akan sulit mengajukan kredit atau pinjaman.
“Jadi kalau kita mengambil pinjaman dengan tujuan baik. Maka kita harus menjadi peminjam yang bertanggung jawab. Kalau kita selalu membayar pinjaman dengan tepat waktu, riwayat kredit kita akan baik. Nilai SLIK-nya akan baik,” papar Sylvia.
Ia menegaskan, riwayat kredit menjadi kunci utama untuk memperoleh akses pembiayaan di masa depan. Masyarakat yang memiliki riwayat pembayaran kredit yang baik—yakni disiplin dan tepat waktu—akan lebih mudah memperoleh akses pembiayaan, termasuk untuk kebutuhan konsumtif maupun usaha. Sebaliknya, riwayat kredit yang buruk dapat menjadi penghambat utama dalam pengajuan pinjaman.
Diakui Sylvia, tingkat literasi keuangan yang masih rendah masih menjadi tantangan di Indonesia. Masyarakat juga banyak yang belum memahami pentingnya menjaga riwayat kredit.
Ia juga mendorong masyarakat untuk mengecek nilai SLIK ke OJK. Pengecekan ini bisa dilakukan secara online ataupun mendatangi kantor-kantor OJK. Pengecekan ini juga penting untuk mengetahui apakah data-data kita, misalnya kartu tanda penduduk (KTP) disalahgunakan oleh orang tidak bertanggungjawab untuk melakukan pinjaman.
Di luar itu, Sylvia mengungkapkan, Home Credit Indonesia baru saja membuka kantor operasional di Solo. Salah satu tujuan pembukaan kantor ini adalah sesuai arahan OJK, yakni untuk memastikan keberlangsungan bisnis perusahaan. Sebelumnya, pada awal 2024 lalu, perusahaan pembiayaan di bawah naungan MUFG Group ini juga membuka kantor operasional di Jogjakarta.
Selama 13 tahun beroperasi di Indonesia, Home Credit Indonesia sudah melayani lebih dari 6,7 juta pelanggan. Jumlah mitra toko yang bekerja sama mencapai 22 ribu dan tersebar di seluruh Indonesia.
“Di Solo sendiri jumlahnya lebih dari 200 mitra toko,” kata Sylvia.
Adapun penyaluran pembiayaan Home Credit di Kota Solo juga menunjukkan tren peningkatan. Jika di tahun-tahun sebelumnya rata-rata per bulan di kisaran Rp3 miliar, di tiga bulan pertama 2026 ini realisasinya meningkat menjadi sekitar Rp4-5 miliar per bulan. AA


