Alarm BNPT! Anak Jadi Target Radikalisasi Terorisme Digital Lewat Game Online dan Medsos

Sorotan:

  • BNPT menegaskan keamanan nasional Indonesia 2025 tetap waspada terkendali di tengah meningkatnya ancaman terorisme digital.
  • Radikalisasi terorisme bergeser ke ruang siber dengan anak dan remaja menjadi sasaran baru melalui game online dan media sosial.
  • Aparat keamanan berhasil menggagalkan puluhan rencana serangan teror dalam tiga tahun terakhir.

Jakarta- Di tengah meningkatnya aktivitas propaganda dan radikalisasi, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memastikan kondisi keamanan nasional Indonesia sepanjang 2025 masih berada dalam status waspada terkendali.

Namun demikian, Ancaman terorisme kini mengalami pergeseran signifikan ke ruang digital. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen (Purn) Eddy Hartono menyatakan, BNPT mencatat 137 pelaku aktif memanfaatkan ruang digital, Mereka termasuk pelaku yang terpapar dan bergabung secara daring maupun yang beraksi tanpa keterlibatan jaringan langsung.

“Risiko penyalahgunaan ruang digital semakin berbahaya. Proses radikalisasi kini tidak lagi memakan waktu bertahun-tahun, tetapi bisa hanya tiga sampai enam bulan,” ungkap Eddy, Selasa (30/12/2025).

Sepanjang 2025, Satuan Tugas Kontra Radikalisasi menemukan sekitar 21 ribu konten bermuatan intoleransi, radikalisme, dan terorisme di ruang digital.

Temuan tersebut sejalan dengan meningkatnya paparan terhadap anak, dengan 112 anak diperiksa Densus 88 Antiteror Polri di 26 provinsi. Fakta ini menunjukkan bahwa media sosial dan game online menjadi sarana efektif penyebaran paham radikal.

“Anak-anak menjadi sasaran baru, terutama melalui algoritma, engagement, dan proses yang dikenal sebagai digital grooming,” kata Eddy.

Karena itu, lanjutnya, BNPT menegaskan mitigasi akan terus diperkuat melalui pencegahan, rehabilitasi, perlindungan objek vital nasional, serta penguatan sinergi lintas sektor.

Aman, Tapi Tetap Waspada

Di sisi lain, Eddy Hartono menyatakan, kondisi keamanan nasional Indonesia sepanjang 2025 masih berada dalam status waspada terkendali.

Status ini mencerminkan adanya dinamika dan indikasi potensi gangguan keamanan, namun dinilai masih dapat dikelola secara efektif oleh aparat.

“Ada dinamika yang mengarah pada gangguan keamanan, seperti rekrutmen, propaganda, dan pendanaan terorisme, tetapi hingga kini belum ada sasaran spesifik dalam waktu dekat,” jelasnya.

Berdasarkan hasil pemantauan, meski ancaman masih ada, dampaknya relatif terkendali dan kondisi keamanan nasional tetap stabil. Pemantauan dilakukan oleh aparat penegak hukum dan intelijen secara terbuka maupun tertutup.

Ia kemudian mengaitkan kondisi global dan posisi Indonesia yang menunjukkan tren membaik. Global Peace Index (GPI) 2025 menempatkan Indonesia di peringkat ke-49 dari 163 negara. Sementara Global Terrorism Index (GTI) dan World Terrorism Index (WTI) masing-masing menempatkan Indonesia pada posisi ke-30 dan ke-51.

Dalam tiga tahun terakhir, BNPT mencatat aparat berhasil menggagalkan 27 rencana serangan teror berdasarkan kajian yang bersumber dari penangkapan dan putusan pengadilan. Ini menunjukkan kemampuan aparat intelijen dan penegak hukum dalam mencegah tindak pidana terorisme.

“Pada periode yang sama, sekitar 230 orang ditangkap karena keterlibatan dalam tindak pidana terorisme, baik sebagai pelaku pendanaan maupun pendukung, dengan ratusan perkara telah disidangkan,” terangnya. (*) RAL

You might also like
Komentar Pembaca

Your email address will not be published.