Highlight:
- Sylvia Lazuarni dinobatkan sebagai Most Outstanding Women 2026, simbol kuat kepemimpinan perempuan di industri multifinance yang kian strategis.
- Literasi keuangan dan pemberdayaan UMKM perempuan jadi misi utama, terutama menghadapi era digital yang sarat peluang sekaligus risiko.
- Work-life integration dan hidup bernilai jadi filosofi kunci, menegaskan bahwa kesuksesan sejati adalah memberi dampak luas.
Bagi sebagian orang, puncak karier adalah soal jabatan. Bagi Sylvia Lazuarni, puncak itu justru tentang makna, tentang sejauh mana perjalanan profesional mampu memberi dampak nyata bagi banyak orang.
Di Solo, Jawa Tengah, namanya bergema saat ia dinobatkan sebagai The Most Outstanding Women in Multifinance Industry dalam ajang “Infobank 500 Most Outstanding Women 2026”.
Namun penghargaan itu bukan sekadar pengakuan atas prestasi individu. Ia adalah sosok yang memberi penegasan atas peran baru perempuan Indonesia. Di matanya, perempuan masa kini bukan lagi pelengkap, melainkan penggerak utama ekonomi.
Sebagai Direktur sekaligus Chief Financial and Operations Officer (CFO & COO) PT Home Credit Indonesia sejak Februari 2022, Sylvia berada di garis depan transformasi bisnis perusahaan.
Ia tidak hanya mengawal stabilitas keuangan, tetapi juga memastikan operasional berjalan selaras dengan strategi besar, termasuk dalam fase penting transisi perusahaan pasca akuisisi oleh Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG).
Di balik peran strategis itu, ada rekam jejak panjang yang membentuk ketajamannya.
Lulusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini memulai karier dari program Officer Development Program di perbankan. Lalu ia meniti jalur global di IBM selama lebih dari delapan tahun.
Ia kemudian melanjutkan kiprahnya di Microsoft Indonesia, Philips Healthcare sebagai CFO, hingga KONE Corporation. Ia sukses membentuk perspektif lintas industri yang jarang dimiliki.
Namun, justru ketika berada di puncak karier korporasi, Sylvia memilih untuk menjejak lebih dekat ke realitas masyarakat.
Ia aktif mendorong literasi keuangan. Salah satunya melalui edukasi kepada ratusan pelaku UMKM perempuan di Solo yang digelar Infobank. Baginya, akses terhadap pembiayaan tanpa pemahaman yang memadai justru bisa menjadi jebakan.
Di era digital, ia melihat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Di satu sisi, teknologi membuka akses pembiayaan dan peluang usaha yang luas. Di sisi lain, risiko seperti penipuan, pinjaman ilegal, hingga judi online mengintai mereka yang tidak siap.
Karena itu, Sylvia menegaskan bahwa perempuan masa kini harus melampaui sekadar partisipasi. Mereka harus memiliki literasi, kesadaran, dan keberanian mengambil keputusan finansial secara bijak.
Data yang ia paparkan menunjukkan urgensi tersebut. Dari puluhan ribu UMKM di Indonesia, sekitar 12.000 pelaku usaha itu berada di Solo, dengan mayoritas pelaku adalah perempuan.
Jumlah ini bukan sekadar statistik, melainkan potensi ekonomi yang besar. Ini sekaligus tanggung jawab untuk memastikan mereka tidak tertinggal dalam arus digitalisasi.
Duit Cerdas & Misi Besar Literasi Finansial
Di internal perusahaan, ia mendorong pemerataan literasi keuangan lintas generasi, dari baby boomers hingga Gen Z.
Melalui program “Duit Cerdas”, ia menyuarakan pentingnya membangun pemahaman finansial yang inklusif, praktis, dan relevan di setiap kelompok usia.
Program ini tak berisi edukasi pengelolaan keuangan, tetapi juga mencakup pemahaman kredit yang sehat dan pengelolaan utang secara bijak. Lalu, mewaspadai risiko di era digital seperti pinjaman ilegal, fraud, dan jebakan konsumsi instan.
Duit Cerdas dirancang sebagai gerakan literasi yang menjangkau karyawan, mitra, hingga masyarakat luas. Pendekatannya adaptif, baik melalui pelatihan langsung, sesi interaktif, maupun kampanye edukasi berbasis digital.
Tujuannya bukan sekadar meningkatkan pengetahuan, tetapi membentuk perilaku finansial yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Prinsipnya sederhana namun mendasar. Setiap orang, tanpa memandang usia, gender, maupun latar belakang, berhak mendapatkan akses edukasi finansial yang sama.
Dengan fondasi inilah Sylvia percaya, pemerataan ekonomi tidak lagi menjadi wacana. Ini menjadi proses nyata yang bisa dipercepat melalui literasi yang tepat dan merata.
Integrasi Hidup
Di tengah tuntutan profesional yang tinggi, Sylvia menolak narasi klasik tentang work-life balance. Baginya, konsep itu terlalu sederhana untuk menggambarkan kompleksitas hidup modern.
Ia memilih pendekatan work-life integration, sebuah cara pandang yang lebih adaptif. Ada masa ketika pekerjaan menuntut fokus penuh hingga larut malam.
Namun ada pula fase ketika keluarga, seperti mendampingi anak menuju masa depan, menjadi prioritas utama.
Hidup, dalam pandangannya, bukan soal membagi waktu secara adil, tetapi menyelaraskan peran secara utuh.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa kesuksesan tidak boleh berhenti pada pencapaian pribadi. Nilai sejati justru terletak pada kontribusi, apakah kehadiran itu memberi manfaat bagi orang lain, memperkuat lingkungan, dan dan berkontribusi bagi bangsa.
Di hadapan ratusan pelaku UMKM perempuan di Solo, Sylvia melihat harapan besar yang sedang tumbuh. Ia percaya, ketika perempuan diberdayakan, terutama melalui pendidikan dan literasi keuangan. Maka efeknya akan berlipat ganda, dimulai dari keluarga hingga ekonomi nasional.
“Karena itu saya katakan, acaranya literasi keuangan yang diselenggarakan Infobank ini sangat positif dan bermanfaat. Kita harus terus menjalankan misi mendidik perempuan Indonesia, karena masa depan bangsa akan sangat ditentukan dari sana,” tutupnya. (*) Ranu Arasyki Lubis