Highlights:
- Perubahan zaman tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga cara baru orang berbuat jahat. Jika dulu kejahatan perbankan identik dengan pembobolan fisik, kini ancamannya justru datang dari layar ponsel.
- Senior Advisor Bank Central Asia (BCA), Wani Sabu mengungkapkan tingkat penipuan di Indonesia bisa mencapai 99 persen, lebih tinggi dibandingkan di luar negeri.
- Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan lagi sekadar sistem keamanan, tetapi juga literasi masyarakat. Banyak orang masih merasa aman selama bertransaksi melalui bank besar, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Artinya, nama besar bank tidak otomatis menjamin keamanan transaksi.
Jakarta – Perubahan zaman tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga cara baru orang berbuat jahat. Jika dulu kejahatan perbankan identik dengan pembobolan fisik, kini ancamannya justru datang dari layar ponsel.
Hal ini diungkapkan langsung oleh Senior Advisor Bank Central Asia (BCA), Wani Sabu dalam kegiatan “Literasi dan Edukasi Keuangan Bersama 500 Pelaku Usaha Ultra Mikro: Peran Wanita Mandiri bagi Perekonomian Negeri” yang digelar oleh Infobank Media Group, sebagai bagian dari rangkaian acara Women Art & Society 2026, di Balaikota Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (17/4).
Ia menyebut kejahatan hari ini sudah bergeser ke arah yang lebih kompleks.
“Sekarang sudah masuk ke social engineering, tipu-tipu, rekening kena hack,” ujar Wani.
Bahkan, ia mengungkapkan tingkat penipuan di Indonesia bisa mencapai 99 persen, lebih tinggi dibandingkan di luar negeri.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan lagi sekadar sistem keamanan, tetapi juga literasi masyarakat. Banyak orang masih merasa aman selama bertransaksi melalui bank besar, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Artinya, nama besar bank tidak otomatis menjamin keamanan transaksi.
Dalam praktik sehari-hari, modus penipuan sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Mulai dari belanja online yang tidak sesuai, hingga tawaran harga murah yang terlalu menggiurkan.
“Kita beli iPhone 17, yang datang malah apel 17 biji,” ucapnya.
Selain itu, penipuan juga kerap datang melalui tautan atau link yang dikirim lewat pesan. Jika dulu berkedok undangan atau paket, kini pelaku menyamar sebagai institusi resmi seperti Dukcapil, BPJS, hingga bea cukai. Tampilannya dibuat sangat meyakinkan, lengkap dengan logo dan format yang terlihat resmi.
“Pokoknya jangan sembarangan klik link. Walaupun tampilannya seperti asli, itu bisa saja penipuan,” tegas Wani.
Risikonya tidak main-main. Satu klik saja bisa membuka akses ke perangkat korban. Dari situ, pelaku bisa memantau aktivitas, bahkan mengambil alih data penting. Dalam banyak kasus, penipuan dimulai dari hal kecil. Misalnya diminta transfer nominal kecil—yang sebenarnya menjadi cara untuk membaca kebiasaan dan data korban.
Modus lain yang juga marak adalah penipuan melalui telepon atau pesan dengan identitas palsu. Pelaku kerap menggunakan foto profil institusi resmi agar terlihat meyakinkan.
“Bank tidak pernah menelepon nasabah untuk meminta data atau membatalkan transaksi,” jelas Wani.
Ia menegaskan, jika ada pihak yang mengaku dari bank dan meminta data pribadi, hampir pasti itu adalah penipuan.
Perkembangan teknologi juga membuat modus semakin canggih. Penipuan kini merambah video call hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI). Dalam beberapa kasus, korban diminta melakukan video call dengan alasan verifikasi, padahal data wajah tersebut disalahgunakan untuk kepentingan lain.
“Jangan video call dengan orang yang tidak dikenal. Data wajah kita bisa dipakai untuk hal lain,” katanya.
Bahkan, dalam kasus tertentu seperti love scam, hubungan dibangun secara emosional sebelum akhirnya korban diminta mentransfer uang. Yang lebih mengkhawatirkan, pelaku di balik komunikasi tersebut bisa saja bukan manusia, melainkan sistem AI yang dirancang untuk menipu.
Di tengah kondisi ini, Wani menekankan pentingnya sikap tidak panik dan tidak mudah percaya. Sebab, kepanikan sering kali menjadi celah bagi pelaku untuk memperdaya korban.
“Kalau uang sudah ditransfer, itu seperti benang kusut. Sulit sekali ditarik kembali,” tuturnya.
Karena itu, literasi digital menjadi kunci utama. Bukan sesuatu yang rumit, tetapi kebiasaan sederhana. Dimulai dari tidak asal klik, tidak mudah percaya, dan selalu melakukan verifikasi. Di era di mana penipuan semakin canggih, kehati-hatian menjadi benteng pertama.
Menutup pemaparannya, Wani mengingatkan bahwa keberanian untuk bersikap waspada adalah hal penting yang sering diabaikan.
“Bukan karena sulit kita menjadi tidak berani. Tapi karena tidak beranilah maka segala sesuatu menjadi sulit,” pungkasnya. ASP