Perang di Depan Mata! Presiden Iran Persetan Tekanan Si Congkak Amerika
Jakarta – Amerika Serikat (AS) terus menekan Iran agar menuruti kemauan Presiden Donald Trump. Menanggapi kecongkakan AS, Iran dengan gentle menjawab: Kami tidak menginginkan perang!
“Namun, jika mereka memaksakan kehendak, mempermalukan dan menuntut agar kami menundukkan kepala, dengan harga berapa pun, haruskah kami menerima itu?” sindir Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Teheran, Rabu (18/2) waktu setempat.
Masoud menegaskan negaranya tidak menginginkan perang, namun juga tidak akan tunduk pada tekanan AS. “Sejak hari pertama saya menjabat, saya percaya bahwa perang harus disingkirkan,” tegasnya.
Tekanan ke Iran disampaikan Rabu (18/2) waktu setempat, selang sehari setelah AS dan Iran menyelesaikan putaran kedua perundingan tidak langsung yang dimediasi Oman di Jenewa.
Upaya negosiasi sebelumnya gagal ketika Israel melancarkan serangan mendadak terhadap Iran pada Juni tahun lalu. Serangan yang memicu perang selama 12 hari karena AS ikut-ikutan membombardir sejumlah fasilitas nuklir Iran.
“Iran akan sangat bijaksana jika membuat kesepakatan dengan Presiden Trump dan dengan pemerintahannya,” kata Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, dilansir AFP.
Jubir Gedung Putih mengeluarkan statemen tersebut setelah Trump kembali mengisyaratkan kemungkinan serangan terhadap Iran. Trump mengungkapkan melalui platform Truth Social miliknya.
Meski tengah dilakukan diplomasi, AS terus memperkuat kehadiran militernya di sekitar Iran. Bahkan, Washington memerintahkan pengiriman kapal induk kedua ke kawasan tersebut.
Kapal induk pertama, USS Abraham Lincoln, bersama hampir 80 pesawatnya, pada Minggu (15/2) terpantau berada sekitar 700 kilometer dari pantai Iran berdasarkan citra satelit.
Iran tak kalah gertak. Mereka pun menunjukkan kesiapan militernya. Garda Revolusi Iran memulai serangkaian latihan perang sejak Senin (16/2) di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dan gas dunia.
Politisi di Iran mendukung sikap Presiden Masoud. Mereka bahkan berulang kali mengancam akan menutup Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur utama energi global. (DW)


