Banten Bergerak Maju, Bank Banten Menguat! Fondasi Regional Champion untuk Ekonomi Tanah Jawara
Jakarta- Perekonomian Banten melaju solid sepanjang 2025 dengan pertumbuhan di atas nasional. Di tengah momentum positif itu, Bank Banten melangkah tegap untuk tampil sebagai regional champion di Tanah Jawara, dengan menunjukkan pertumbuhan yang di atas rata-rata industri, perbaikan tata kelola, serta peran strategis sebagai agen pembangunan daerah yang kian relevan dan berkelanjutan.
Perekonomian Provinsi Banten terus menunjukkan performa yang solid dan penuh optimisme. Sepanjang 2025, Banten bukan hanya tumbuh di atas ratarata nasional, tapi juga mulai memperlihatkan kualitas pertumbuhan yang semakin matang dan terarah.
Posisi geografis yang strategis, basis industri yang kuat, serta arus investasi yang terus mengalir menjadikan Banten salah satu motor penting perekonomian nasional.
Pada triwulan III-2025, pertumbuhan ekonomi Banten mencapai 5,29% secara tahunan (yoy), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,04%.
Capaian ini menegaskan bahwa Banten tidak sekadar ikut arus pemulihan, tapi sudah berada pada jalur ekspansi yang relatif stabil dan berkelanjutan. Dari perspektif economic momentum, Banten sedang berada dalam fase yang menjanjikan.
Andra Soni, Gubernur Banten melihat pertumbuhan ini sebagai hasil dari proses panjang. Ia menilai, selama bertahuntahun pemerintah daerah terus berupaya menjaga agar perekonomian tetap positif, meski tantangan struktural masih terasa.
Menurutnya, pertumbuhan yang baik tidak cukup hanya dilihat dari angka, tapi dari seberapa adil dan merata dampaknya bagi masyarakat.
“Yang saya lihat selama ini upaya itu bagus, pertumbuhan ekonomi Banten selalu positif. Tapi yang belum sepenuhnya tercapai adalah keadilannya, bagaimana kualitas pertumbuhan ini bisa dirasakan merata, tanpa ada disparitas”, ujar Andra Soni.
Pernyataan ini mencerminkan kesadaran bahwa inclusive growth menjadi pekerjaan rumah utama di Banten.
Selama ini, struktur ekonomi Banten masih didominasi wilayah utara, terutama Tangerang Raya, Kota Cilegon, dan Kabupaten Serang.
Sekitar 58% Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terkonsentrasi di kawasan itu, sementara wilayah selatan seperti Lebak dan Pandeglang kontribusinya belum mencapai dua digit. Disparitas inilah yang coba diatas oleh pemerintah provinsi.
Strategi pemerataan kemudian dijalankan melalui pendekatan pembangunan manusia (SDM) dan infrastruktur dasar. Program sekolah gratis menjadi salah satu kebijakan kunci yang secara tidak langsung mendorong peningkatan human capital. Pendidikan, bagi Pemerintah Provinsi Banten, bukan sekadar konsumsi, melainkan investasi jangka panjang.
Pada 2025, sekitar 65 ribu siswa SMA dan SMK swasta dibiayai pemerintah provinsi. Ke depan, program ini diperluas hingga sekolah berbasis keagamaan.
Harapannya, kualitas sumber daya manusia Banten semakin siap menghadapi kebutuhan kawasan industri, logistik, dan ekonomi digital yang terus berkembang.
Selain pendidikan, pembangunan infrastruktur desa juga menjadi fokus. Salah satunya, program jalan desa sejahtera yang telah membangun jalan sepanjang 78 kilometer di 64 desa. Infrastruktur ini bukan sekadar beton dan aspal, melainkan pengungkit supply chain ekonomi desa agar terhubung dengan pasar yang lebih luas.
Dari sisi sektor, industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung ekonomi Banten. Namun, sektor pertanian juga menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan, ditandai dengan kenaikan nilai tukar petani. Kombinasi industri, properti, pertanian, dan logistik membentuk struktur ekonomi yang lebih seimbang.
“Ke depan, industri pengolahan, hilirisasi, perdagangan, logistik, energi, dan ekonomi digital akan menjadi motor utama pertumbuhan,” kata Andra Soni.
Ia menekankan bahwa pertumbuhan sektor sektor ini harus didukung oleh lembaga keuangan daerah yang kuat agar pembiayaan pembangunan dapat dinikmati secara merata. (*) Ari Nugroho


