Utang AS dan Inflasi Tekan The Fed, BI Prediksi Penurunan Bunga Sangat Terbatas

Jakarta— Bank Indonesia (BI) memberi sinyal tegas soal arah kebijakan moneter global. Ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas Fed Funds Rate (FFR) pada 2026 diproyeksikan semakin sempit, dengan peluang penurunan hanya satu kali dan terbatas pada semester I/2026.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan, tekanan struktural di perekonomian Amerika Serikat membuat The Fed berada dalam posisi sulit untuk melonggarkan kebijakan moneternya secara agresif.

Hal itu disampaikan Destry dalam Starting Year Forum 2026 bertajuk Membangun Optimisme Tahun 2026 Melalui Program Asta Cita yang digelar Infobank Media Group, Kamis, 22 Januari 2026.

Ia menyebut, lonjakan utang pemerintah AS menjadi faktor utama. Sejak pandemi Covid-19, negara-negara maju, termasuk AS, terus mengandalkan pembiayaan defisit besar yang mendorong penerbitan obligasi secara masif dan menahan suku bunga tetap tinggi.

“Hingga akhirnya menyebabkan mereka issu bond, issu bond dan seterusnya, sehingga itu menyebabkan suku bunga juga meningkat,” ujarnya.

Tekanan tidak berhenti di situ. Inflasi di Amerika Serikat kembali menjadi batu sandungan bagi pelonggaran moneter.

Destry menilai, kebijakan tarif yang diterapkan Presiden Donald Trump ikut memperkuat tekanan harga. Sehingga, The Fed cenderung menahan langkah pemangkasan suku bunga.

“Kalau dari The Fed kan pandangananya nggak ada terlalu banyak (Pemangkasan FFR) karena ada malah inflasi yang naik. Karena di sana juga ada masalah inflasi yang naik, di mana inflasi part of penyebabnya adanya tarif juga, jadi ada masalah yang sangat kompleks, sehingga kalau kita lihat The Fed kami perkirakan hanya turun 1 kali lagi semester I (2026),” ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia diperkirakan akan menghadapi lingkungan suku bunga global yang bertahan tinggi.

Negara-negara maju dinilai akan mempertahankan imbal hasil aset mereka agar tetap menarik di tengah tingginya kebutuhan pembiayaan dan utang publik.

“Jadi bunga akan dipertahankan tinggi juga karena pembiayaan atau utang publiknya juga besar” bebernya.

Hal ini menurutnya akan berdampak terhadap pasar keuangan. Pasalnya, ekonomi dunia mengalami perlambatan, sehingga memengaruhi sektor keuangan di negara maju. (*) IR

Editor: RAL

Bank Indonesiadestry damayantiInfobank SLE Awards 2026Suku Bunga Acuansuku bunga The Fed
Comments (0)
Add Comment