Tantangan dan Keberlanjutan Pasar Karbon di Indonesia

Jakarta— Komunitas global tengah mengejar untuk mencapai target jangka panjang Paris Agreement guna membatasi kenaikan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) global secepat mungkin, serta menguranginya dengan cepat sesuai dengan ketersediaan sains dan teknologi saat ini.

Paris Agreement menyaratkan kepada setiap negara untuk menyusun strategi dan mengomunikasikan aksi iklimnya pasca 2020 atau disebut sebagai Nationally Determined Contributions (NDC). NDC ini memuat upaya dari setiap negara untuk mengurangi emisi nasional dan beradaptasi dengan efek perubahan iklim.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kredit karbon merupakan salah satu implementasi kunci dalam mewujudkan NDC. Secara global, minat terhadap pasar karbon semakin meningkat sebesar 83% dari NDC menyatakan rencana untuk menggunakan mekanisme pasar internasional sebagai upaya mengurangi emisi gas rumah kaca.

DBS Bank Ltd (Bank DBS) mengadakan sesi berbagi pengetahuan (knowledge sharing session) terkait kredit karbon dan perkembangannya kepada para pemangku kepentingan pemerintah Indonesia, termasuk Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Dipimpin oleh tim ahli pasar perdagangan karbon di Treasury & Markets (T&M) dan Institutional Banking Group (IBG) dari Bank DBS Indonesia, Singapura, dan Inggris, sesi tersebut membahas tentang prinsip dasar kredit karbon, serta tantangan dan peluang dalam mengembangkan pasar perdagangan karbon di Indonesia.

Head of Treasury & Markets PT Bank DBS Indonesia Puneet Punj mengatakan, DBS Group dan Bank DBS Indonesia telah membantu dan mendukung banyak institusi di tingkat regional untuk mencapai tujuan keberlanjutannya dengan praktik dan solusi yang terbaik

“Topik keberlanjutan merupakan tanggung jawab bersama dan dalam beberapa tahun terakhir kami melihat  kenaikan minat dan inisiatif dari banyak negara untuk mengembangkan pasar karbon kredit mereka,” ujarnya.

Sebagai bank yang didorong oleh tujuan positif (purpose-driven), Bank DBS Indonesia secara aktif melibatkan diri dan memberikan advokasi kepada institusi dan perusahan yang ingin melakukan transisi bisnis ke arah yang lebih berkelanjutan.

Unit bisnis IBG bersama T&M Bank DBS Indonesia mampu menyediakan solusi yang sesuai dan juga inovatif dalam hal risiko manajemen, keuangan, investasi, dan berbasis environmental, social, and governance (ESG).

Pendekatan keberlanjutan Bank DBS didasari oleh tiga pilar yaitu, Responsible Banking, Responsible Business Practice, dan Impact Beyond Banking.

Pada 2020, bank meluncurkan kerangka kerja dan taksonomi transisi keuangan berkelanjutan pertama di dunia. Selain itu, bank juga merilis rangkaian laporan dan panduan, termasuk path to net zero yang mengindikasikan sembilan sektor dekarbonisasi. Bank DBS adalah salah satu pemegang saham pendiri dari Climate Impact X (CIX), sebuah bursa karbon global yang berbasis di Singapura. (*) RAL

DBSDBS Foundationemisi-karbonpemanasan iklimperdagangan karbonPerubahan Iklim
Comments (0)
Add Comment