Siapa Motjaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Pengganti Ayatollah Khamenei?

Headlights:

  • Anak Ayatollah Ali Khamenei, Motjaba Khamenei, resmi ditetapkan oleh Majelis Ahli sebagai pemimpin tertinggi baru Iran menggantikan ayahnya.
  • IRGC menyambut penunjukan Mojtaba Khamenei dengan menyebut Mojtaba Khamenei sebagai “ahli hukum yang mumpuni, pemikir muda, dan sosok paling memahami isu-isu politik serta sosial.”
  • Informasi diplomatik Amerika Serikat yang dibocorkan WikiLeaks pada akhir 2000-an menggambarkan Mojtaba sebagai “kekuatan di balik jubah”. Dia dianggap sebagai “pemimpin tangguh dan cakap” di dalam rezim.

Jakarta – Pria ini kehilangan ayah, ibu, dan istri tercintanya dalam satu serangan brutal Amerika Serikat dan Israel, Sabtu (28/2) lalu. Dia, pemimpin tertinggi Iran yang baru, pengganti Ayatollah Ali Khamenei. Dia, Motjaba Khamenei, tak bakal tunduk pada kemauan agresor Amerika dan Israel.

Mojtaba Khamenei resmi ditetapkan oleh Majelis Ahli sebagai pemimpin tertinggi baru menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Media pemerintah Iran melaporkan, Majelis Ahli yang beranggotakan 88 orang memastikan proses penunjukan pemimpin baru tak terhenti meski negara berada dalam situasi perang dan menghadapi ancaman langsung dari musuh.

Pun saat bom Israel menghantam kantor sekretariat Majelis Ahli yang menewaskan sejumlah staf serta anggota tim keamanannya, mereka tidak menghentikan proses pemilihan pemimpin baru itu.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyambut penunjukan Mojtaba Khamenei dengan menyebut Mojtaba Khamenei sebagai “ahli hukum yang mumpuni, pemikir muda, dan sosok paling memahami isu-isu politik serta sosial.”

IRGC juga menyatakan “rasa hormat, pengabdian, dan ketaatan” kepada Mojtaba Khamenei. “Seluruh anggota IRGC siap untuk patuh sepenuhnya dan berkorban demi menjalankan perintah ilahi Pemimpin Tertinggi,” seru pimpinan IRGC melalui televisi.

Mojtaba Khamenei selama ini jarang terlihat di publik. Dia lebih banyak di balik layar. Dia tidak pernah menduduki jabatan pemerintahan, tidak pernah berpidato di depan publik, atau pun sekadar wawancara.

Informasi diplomatik Amerika Serikat yang dibocorkan WikiLeaks pada akhir 2000-an menggambarkan Mojtaba sebagai “kekuatan di balik jubah”. Dia dianggap sebagai “pemimpin tangguh dan cakap” di dalam rezim.

Mojtaba lahir di Mashhad, kota di timur laut Iran, pada 8 September 1969. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara Khamenei. Pendidikan menengahnya ditempuh di Sekolah Alavi, sebuah lembaga pendidikan keagamaan di Teheran.

Pada usia 17 tahun, Mojtaba sempat beberapa kali bertugas di militer selama Perang Iran-Irak. Perang yang berlangsung selama delapan tahun itu menjadi benih awal kebenciannya pada Amerika Serikat dan negara-negara Barat, yang saat itu mendukung Irak.

Pada 1999, Mojtaba melanjutkan studi agama di Qom, kota suci yang menjadi pusat penting teologi Syiah. Keputusan untuk menekuni studi keagamaan pada usia 30 tahun dianggap tidak lazim, karena biasanya dilakukan sejak muda.

Nama Mojtaba kali pertama mencuat ke perhatian publik pada pemilihan presiden 2005, yang dimenangkan Mahmoud Ahmadinejad.

Mojtaba diprediksi akan melanjutkan garis kebijakan keras ayahnya. Seorang pria yang kehilangan ayah, ibu, dan istrinya akibat serangan udara AS-Israel kecil kemungkinan akan tunduk pada tekanan Barat. DW

ASAyatollah Ali KhameneiIranisraelMotjaba Khameneipemimpin tertinggi Iran
Comments (0)
Add Comment