Headlights:
- Donald Trump marah besar karena tak dilibatkan dalam pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran.
- Donald Trump menyatakan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru tak akan bertahan lama tanpa persetujuan AS.
- Trump mengatakan pernyataan tersebut dilandasi pertimbangan strategis agar Amerika Serikat tidak kembali terlibat konflik dengan Iran di masa depan.
Jakarta — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar sakit jiwa. Gila. Dia dikabarkan marah besar gara-gara tak dilibatkan dalam pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran pengganti Ayatullah Ali Khamenei. Lha, siapa elu?
Seperti diketahui, pada Senin (9/3) kemarin, Majelis Ahli yang berjumlah 88 orang secara resmi menetapkan Motjaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pengganti Ayatollah Khamenei yang meninggal pada serangan AS – Israel, Sabtu (28/2) lalu.
Mendengar hal itu, Trump dikabarkan marah besar. Dia merasa dirinya seharusnya ikut dilibatkan dalam penentuan calon pengganti Ayatollah Khamenei.
Saking jengkelnya, Trump sampai mengancam Motjaba Khamenei. Dia menegaskan, pemimpin tertinggi Iran berikutnya tidak akan dapat bertahan lama tanpa persetujuan dari AS. Dia menegaskan, siapa pun yang menggantikan posisi Pemimpin Tertinggi Iran harus mendapat persetujuan dari Amerika Serikat.
“Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami. Jika tidak, dia tidak akan bertahan lama,” ancam Trump.
Trump mengatakan pernyataan tersebut dilandasi pertimbangan strategis agar Amerika Serikat tidak kembali terlibat konflik dengan Iran di masa depan.
“Saya tidak ingin dalam lima tahun kita harus melakukan hal yang sama lagi, atau lebih buruk lagi jika mereka memiliki senjata nuklir,” kata Trump.
Pernyataan Trump ini menjadi bahan olok-olokan para pemerhati Timur Tengah. “Memangnya siapa dia? Dia kan yang menyerang Iran. Kenapa rakyat Iran harus meminta izin dia untuk memilih pemimpin mereka sendiri,” ujar pemerhati Timur Tengan, Mohammad Husein, melalui channel medsosnya, dikutip The Asian Post, Selasa (10/3).
Trump marah, kata Husein, karena merasa berhak menentukan masa depan Iran ke depan. Masa depan yang dimaksud Trump adalah Iran yang tunduk pada kemauan Amerika. Sesuai yang mustahil.
“Dia menyerang Iran karena ingin mengganti rezim Khamenei dengan rezim yang mau tunduk pada Washington. Tapi yang terjadi, pengganti Khamenei adalah Motjaba, anak Khamanei yang diyakini akan segaris dengan Khamenei,” ujarnya.
Apalagi, lanjut dia, pada serangan AS – Israel, Sabtu (28/2) itu, orang-orang tercinta Motjaba, yakni ayah, ibu, istri, dan anaknya, tewas seketika. “Bagaimana mungkin berharap Motjaba tunduk pada kemauan pembunuh keluarganya,” tutupnya. DW