Highlights:
- Senin, 20 April 2026. Tentara Israel pasang spanduk “Rising Lion” dan kibarkan bendera Bintang Daud di atap Rumah Sakit Indonesia, Jalur Gaza. Lengkap dengan kutipan: “Lihatlah, suatu bangsa bangkit seperti singa, dan seperti singa mengangkat dirinya.”
- RS Indonesia pertama dikepung November 2023, diduduki berbulan-bulan. Sempat napas lagi Juni 2024 jadi satu-satunya IGD di Gaza Utara. Lalu dihajar lagi 2025, sampai tutup buku. Sekarang gedung itu jadi photo booth militer. Caption-nya: “Batalyon 9208 Brigade Negev siap Hari Kemerdekaan di RS Indonesia, Jabalia.”
- Indonesia setor Rp17 triliun–meski kemudian dibantah. Katanya buat perdamaian. Masalahnya: di klausul BoP, kata “Gaza” nggak disebut eksplisit. Artinya duit bisa muter ke mana saja. Termasuk, mungkin, buat beli cat spanduk “Rising Lion”.
Jakarta — Ada yang bilang diam itu emas. Tapi kalau rumah sakit yang dibangun pakai keringat rakyatmu diinjak-injak, diam itu ayam sayur.
Senin, 20 April 2026. Tentara Israel pasang spanduk “Rising Lion” dan kibarkan bendera Bintang Daud di atap Rumah Sakit Indonesia, Jalur Gaza. Lengkap dengan kutipan: “Lihatlah, suatu bangsa bangkit seperti singa, dan seperti singa mengangkat dirinya.”
Gagah. Tapi singa yang bangkit itu berdiri di atas ranjang pasien yang sudah mati. Di atas gedung yang dibiayai urunan rakyat Indonesia. Di atas logika kemanusiaan yang mereka kubur sendiri.
Ini bukan adegan baru. RS Indonesia pertama dikepung November 2023, diduduki berbulan-bulan. Sempat napas lagi Juni 2024 jadi satu-satunya IGD di Gaza Utara. Lalu dihajar lagi 2025, sampai tutup buku. Sekarang gedung itu jadi photo booth militer. Caption-nya: “Batalyon 9208 Brigade Negev siap Hari Kemerdekaan di RS Indonesia, Jabalia.”
Hari Kemerdekaan yang mana? 21–22 April, perayaan 78 tahun Israel berdiri di atas Nakba 1948. Maling teriak maling. Penjajah bikin pesta di rumah korban, sambil selfie.
Lalu Jakarta ngapain? Masih anteng duduk manis di Board of Piece, BoP, proyek damai-damaian Donald Trump. Indonesia setor Rp17 triliun–meski kemudian dibantah. Katanya buat perdamaian. Masalahnya: di klausul BoP, kata “Gaza” nggak disebut eksplisit. Artinya duit bisa muter ke mana saja. Termasuk, mungkin, buat beli cat spanduk “Rising Lion”.
Ini namanya air susu dibalas air tuba. Kita kirim duit perdamaian, mereka kirim tentara ke atap rumah sakit kita. Kita teken BoP, mereka teken kematian fasilitas kesehatan.
Ini red flag segede Monas. Israel udah terang-terangan: hukum internasional mereka buang ke laut, nyawa sipil mereka anggap statistik. Kalau spanduk di RS Indonesia belum cukup bikin kita cabut dari BoP, tunggu apalagi? Nunggu mereka ganti plang jadi “Herzl Memorial Hospital”?
Pepatah bilang: “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.” Israel lancung tiap hari. Yang bikin muak: kita masih di BoP.
Pak Prabowo, Bapak doyan seragam, doyan pidato “Indonesia disegani”. Tapi kalau bendera asing berkibar di gedung rakyatmu dan respon kita cuma nota diplomatik, itu bukan macan Asia. Itu kucing dikasih loreng, ngorok pas rumahnya dibobol.
Mau bukti lebih telanjang? RS Indonesia itu sekarang nggak bisa rawat siapa-siapa. Dokternya ngungsi, alatnya hancur, tapi spanduk mereka tegak. Ini bukan diplomasi. Ini ngencingin muka kita, terang-terangan.
Jalan keluar cuma satu: hengkang dari BoP hari ini juga. Jangan sampai ikut-ikutan iuran. Kalau ternyata sudah ijut iuran, audit alirannya. Bawa ke Mahkamah Internasional. Sita aset Israel buat ganti rugi RS Indonesia.
Stop basa-basi “kami prihatin”. Prihatin nggak ngobatin luka tembak. Karena “harapkan pagar, pagar makan padi”. Kita berharap BoP jadi jalan damai, ternyata jadi ATM buat yang ngebom.
Kalau pemerintah masih diam, ini tak ubahnya “Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.” Dan, nama yang bakal ditinggal kalau terus begini adalah: pemimpin yang nonton rumah sakitnya diinjak, sambil transfer dana ke BoP.
Jangan sampai sejarah nulis: “Saat singa Israel mengaum di atap rumah sakitnya, Indonesia milih jadi patung.” DW