INDUSTRI perbankan sedang mengarungi kondisi tak pasti dengan potensi menuju perlambatan pertumbuhan pada 2025. Dalam acara Economy Mastery Forum 2025 yang digelar Infobank Media Group di Hotel Kempinski Indonesia pada 29 Agustus 2025, Agus DW Martowardojo, mengingatkan kepada para bankir agar selalu menjaga kepercayaan dan integrity.
“Mohon Anda selalu mejaga yang namanya integrity dan kepercayaan. Karena kalau itu tidak dijaga, itu bisa membawa masalah kepada Bank dan stabilitas ekonomi ,” ujar bankir senior yang menjadi salah satu Dewan Pakar Infobank di depan 550 direksi bank umum dan bank perkreditan rakyat.
Saat forum tersebut digelar, di beberapa tempat dan kota sedang terjadi pergolakan massa termasuk mahasiswa yang melakukan demonstrasi terutama kepada aparat kepolisian dan legislatif . Namun, Agus meyakini bahwa Indonesia punya potensi untuk maju.
“Indonesia pasti akan bisa maju dengan baik. Tapi Anda di perbankan harus hati-hati dan waspada. Anda harus paham, baik sebagai pengurus bank atau rekan kita yang menjadi pemilik bank, atau rekan kita yang menjadi pengawas ataupun regulator bank. Semua harus selalu bisa jaga kepercayaaan dan jaga good corporate governance. Kalau itu tidak dijaga, itu bisa membawa masalah besar pada Bank dan ekonomi negara,” jelas Agus yang pernah menjadi Gubernur Bank Indonesia pada 2013 hingga 2018.
Agar Indonesia bisa merealisasikan potensinya untuk maju, Agus yang pernah menjadi Menteri Keuangan pada 2020 sampai 2013 juga mengingatkan tentang pentingnya disiplin menjaga kesehatan fiskal oleh Pemerintah .
“Yang lain yang penting harus selalu dijaga adalah kesehatan fiskal, baik itu fiskal di pemerintah pusat ataupun di pemerintah daerah. Itu harus kita jaga supaya senantiasa sehat. Yang lain yang harus kita jaga adalah karena kita ada di sistem perbankan, sistem pengelolaan Bank harus baik, khusus yang sistemik bank, harus dijaga dengan ekstra hati-hati, kalau tidak bisa terulang krisis seperti tahun 1997/1998,” ujar Agus yang pernah mengarungi krisis 1998 dan saat itu menjadi bagian dari tim inti merger empat bank pemerintah menjadi Bank Mandiri.
Agus mengingatkan betapa besar sumber daya yang harus dikeluarkan untuk menjaga kepercayaan ketika terjadi krisis ekonomi/perbankan di tahun 1998 itu. Seluruh dana pihak ketiga yang ada di Bank saat itu diberi penjaminan oleh pemerintah, dan juga semua utang bank ke luar negeri maupun ke dalam negeri juga diberi penjaminan oleh pemerintah .
“Betapa besarnya beban pemerintah untuk menjaga kebijakan penjaminan itu. Contoh lain saat merger Bank Mandiri di tahun 1999, setelah dilakukan restrukturisasi, rasionalisasi, dan integrasi, kemudian direkapitalisasi dengaan tambahan modal sebesar Rp174 triliun. Kalau hitungan sekarang di tahun 2025 sama dengan dikalikan 10 berarti sebesar Rp1.740 triliun,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Agus juga menyampaikan kisahnya bersama Sigit Pramono yang saat itu menjadi salah satu Senior Vice President bidang Credit Restructuring Unit pada saat merger Bank Mandiri.
Hal itu juga menjadi salah satu cerita dalam buku Transformasi dan Ruwat Citra karya Sigit Pramono yang diluncurkan pada forum tersebut. Sigit Pramono adalah bankir yang menjadi bagian dari tim inti merger Bank Mandiri yang kemudian dipercaya memimpin CEO di Bank Internasional Indonesia dan Bank Negara Indonesia (BNI).
Dalam forum yang juga diisi peluncuran buku Transformasi dan Ruwat Citra, turut dihadiri para tokoh lain seperti mantan Presiden RI Boediono, pakar management Rhenald Kasali, budayawan Goenawan Mohamad, penyanyi senior Ikang Fauzi, Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi, serta sederet tokoh lainnya. KM