Oleh Yazid Bindar, Guru Besar Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung.
DUNIA modern menempatkan obat sebagai simbol kemajuan ilmu pengetahuan, penakluk penyakit, dan penopang harapan hidup manusia.
Di balik tablet kecil, kapsul berwarna, dan cairan injeksi yang bersih serta klinis, tersembunyi fondasi material yang turunan bahan kimia dari hidrokarbon minyak bumi.
Hampir seluruh bahan kimia primer obat sebagai zat aktif, prekursor sintesis, maupun eksipien yang berasal langsung atau tidak langsung dari hidrokarbon hasil pengolahan minyak bumi.
Ketergantungan ini jarang dibicarakan dalam diskursus kesehatan publik. Farmasi seolah berdiri di luar persoalan krisis energi dan krisis iklim, padahal secara struktural ia tertambat kuat pada industri petrokimia.
Ketika minyak bumi memasuki fase puncak produksi dan kemudian penurunan yang tak terelakkan, persoalan yang muncul bukan hanya soal bahan bakar dan listrik, tetapi juga keberlanjutan produksi obat itu sendiri.
Akar Petrokimia dari Kimia Obat Modern
Minyak bumi merupakan sumber hidrokarbon alami yang paling dominan bagi industri kimia modern. Melalui proses distilasi fraksionasi, perengkahan, dan reformasi, minyak bumi diubah menjadi fraksi-fraksi hidrokarbon seperti Etilena C2H4, Propilena C3H6, Butadiena C4H6 , serta senyawa aromatik BTX (Benzena C6H6, Toluena C6H5CH3, Xilena C6H4CH3CH3). Senyawa inilah yang menjadi batu bata molekuler bagi hampir semua sintesis kimia farmasi.
Benzena dan turunannya, misalnya, menjadi tulang punggung struktur aromatik pada mayoritas obat molekul kecil.
Dari Benzena lahir Fenol (C6H5OH), Anilin C6H5NH2, Asam Benzoat C6H5COOH, dan ratusan intermediat lain yang kemudian dimodifikasi menjadi analgesik, antibiotik sintetis, obat kardiovaskular, hingga agen kemoterapi. Tanpa pasokan hidrokarbon aromatik yang stabil, rantai sintesis ini runtuh dari hulunya.
Sintesis Obat sebagai Rantai Panjang Turunan Hidrokarbon
Obat modern jarang sekali merupakan molekul kimia yang langsung tersedia secara alami. Parasetamol C8H9NO2, Aspirin C9H8O4, Ibuprofen C13H18O2, Siprofloksasin C17H18FN3O3 hingga Antihipertensi generasi baru, semuanya merupakan hasil rekayasa struktur kimia berbasis hidrokarbon dari minyak bumi.
Bahkan, obat yang terinspirasi dari senyawa alam tetap disintesis ulang secara industri menggunakan prekursor petrokimia demi konsistensi dan skala produksi.
Proses ini membentuk rantai panjang. Minyak bumi menjadi hidrokarbon dasar. Hidrokarbon dasar diubah ke senyawa antara. Senyawa kimia antara diubah ke bahan kimia primer.
Bahan kimia primer disintesa ke zat aktif farmasi. Setiap mata rantai bergantung pada ketersediaan bahan baku minyak bumi dan energi fosil. Dengan kata lain, obat modern adalah produk hilir dari peradaban Hidrokarbon Minyak Bumi.
Kemandirian Bahan Kimia Farmasi dari Transisi Minyak Bumi
Selama ini, pembicaraan tentang habisnya minyak bumi lebih sering difokuskan pada sektor transportasi dan listrik. Farmasi luput dari sorotan, seolah-olah obat dapat tetap diproduksi meski dunia kehabisan minyak.
Padahal, industri farmasi adalah salah satu pengguna bahan kimia bernilai tinggi yang paling bergantung pada petrokimia.
Ketika pasokan minyak menurun, industri kimia dasar akan memprioritaskan sektor dengan margin terbesar atau kepentingan strategis tertentu. Dalam situasi krisis, bahan kimia farmasi bisa menjadi langka, mahal, atau tidak stabil pasokannya. Ini menciptakan kerentanan sistemik pada kesehatan global.
Masa Habisnya Minyak dan Efek Domino pada Bahan Kimia Primer
Minyak bumi adalah sumber daya bahan kimia Hidrokarbon terbatas. Ketika produksi global memasuki fase penurunan, bukan hanya volume yang menyusut, tetapi juga kualitas minyak yang tersedia. Minyak yang lebih berat dan kompleks membutuhkan energi lebih besar untuk diolah, sehingga biaya produksi bahan kimia primer meningkat signifikan.
Kenaikan biaya ini akan merambat langsung ke harga obat. Negara-negara berkembang, yang selama ini bergantung pada impor bahan baku obat, akan berada di posisi paling rentan. Krisis energi berubah menjadi krisis kesehatan, bukan karena kurangnya ilmu medis, tetapi karena kelangkaan molekul dasar.
Ketergantungan Tak Terlihat pada Produk Samping Minyak
Banyak bahan kimia primer obat justru berasal dari produk samping (by-product) pengilangan minyak bumi. Artinya, produksi bahan kimia tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi menumpang pada keberlanjutan industri bahan bakar fosil.
Habisnya pasokan minyak bumi, maka pasokan bahan kimia hidrokarbon minyak bumi juga habis. Habis nya pasokan hidrokarbon minyak bumi, pasokan bahan kimia hidrokarbon untuk sintesa bahan kimia obat juga langsung berhenti.
Apakah dunia mampu menyediakan pasokan bahan hidrokarbon untuk bahan sintesa obat dari hidrokarbon bukan minyak bumi? Apakah ada produksi bahan kimia hidrokarbon selain dari minyak bumi? Bagaimana nasib bahan kimia farmasi di masa depan tanpa bahan hidrokarbon dari minyak bumi?
Bahan Kimia Obat tanpa Bahan Kimia Hidrokarbon Minyak Bumi
Tanpa bahan hidrokarbon yang berasal dari minyak bumi, industri bahan kimia obat akan menghadapi guncangan struktural yang sangat serius, karena hampir seluruh zat aktif dan bahan kimia primer farmasi modern disintesis dari kerangka karbon petrokimia yang selama ini tersedia melimpah, konsisten, dan relatif murah.
Hilangnya sumber ini bukan sekadar persoalan teknis penggantian bahan baku, melainkan krisis fondasional, sebab jalur sintesis obat yang ada yang mulai dari analgesik sederhana seperti parasetamol hingga obat-obatan kompleks yang dirancang secara historis berdasarkan ketersediaan benzena, toluena, xilena, dan turunannya.
Tanpa hidrokarbon minyak bumi, banyak reaksi kimia menjadi tidak ekonomis atau bahkan tidak mungkin dilakukan dalam skala industri, sehingga pasokan obat terancam menurun drastis dan harga melonjak tajam.
Dalam kondisi demikian, upaya substitusi melalui biomassa, bioteknologi, atau kimia hijau akan menghadapi tantangan besar berupa keterbatasan skala, variabilitas bahan baku, serta kebutuhan energi dan investasi yang tinggi.
Farmasi dunia akan dipaksa melakukan transisi radikal, bukan hanya mengganti sumber hidrokarbon, tetapi juga mendesain ulang molekul obat, proses sintesis, dan sistem produksi secara keseluruhan.
Selama transisi ini belum matang, nasib bahan kimia obat berada dalam posisi rapuh. Ilmu kedokteran mungkin tetap maju, tetapi kemampuan material untuk mewujudkannya terhambat, menjadikan kesehatan global semakin rentan terhadap krisis energi dan sumber daya.
Keterbatasan Alternatif Non-Petroleum
Secara teoritis, bahan kimia hidrokarbon untuk obat bisa saja diproduksi dari bahan baku biomassa. Namun dalam praktik industri, alternatif ini masih menghadapi hambatan besar dalam hal skala terbatas, variasi bahan baku tinggi, proses lebih kompleks, dan biaya yang belum kompetitif.
Biomassa, misalnya, bersifat musiman dan heterogen. Sintesis kimia membutuhkan bahan baku dengan kemurnian dan konsistensi tinggi, sesuatu yang selama ini hanya mampu disediakan oleh petrokimia. Upaya kimia hijau masih berada pada tahap laboratorium atau produksi niche, belum menggantikan dominasi minyak bumi.
Farmasi sebagai Anak Kandung Peradaban Fosil
Secara historis, farmasi modern lahir bersamaan dengan revolusi petrokimia abad ke-20. Penemuan obat sintetis massal tidak terpisahkan dari ketersediaan karbon fosil murah dan melimpah. Dengan demikian, farmasi bukan sekadar pengguna minyak bumi, tetapi produk langsung dari peradaban fosil itu sendiri.
Kesadaran ini penting karena menunjukkan bahwa krisis farmasi di masa depan bukanlah kegagalan medis, melainkan kegagalan model peradaban. Tanpa perubahan paradigma bahan baku, kemajuan farmasi akan mencapai batas materialnya.
Risiko Geopolitik dan Ketimpangan Global
Ketika minyak bumi semakin langka, negara-negara pemilik sumber daya akan memiliki daya tawar lebih besar, termasuk dalam rantai pasok bahan kimia obat. Negara yang tidak memiliki basis petrokimia kuat akan semakin tergantung dan rentan terhadap fluktuasi harga serta embargo terselubung.
Kesehatan publik pun menjadi arena geopolitik baru. Akses obat tidak lagi hanya ditentukan oleh kebijakan kesehatan, tetapi oleh peta energi global. Ini berpotensi memperlebar jurang ketimpangan antara negara maju dan berkembang.
Rantai Petrokimia di Balik Bahan Kimia Obat Parasetamol
Produksi parasetamol secara industri berawal dari minyak bumi yang melalui proses pengilangan dan pemisahan fraksi aromatik menghasilkan hidrokarbon benzena sebagai bahan baku utama.
Benzena tersebut kemudian menjalani reaksi nitrasi untuk membentuk nitrobenzena sebagai senyawa antara awal. Nitrobenzena selanjutnya mengalami proses reduksi sehingga gugus nitro berubah menjadi gugus amina dan menghasilkan Anilin sebagai bahan kimia primer penting dalam industri farmasi.
Kemudian, produk Anilin diproses melalui hidroksilasi terarah untuk menghasilkan p-aminofenol dengan susunan gugus fungsional yang tepat bagi aktivitas biologis.
Akhirnya, p-aminofenol menjalani reaksi asetilasi pada gugus aminanya sehingga terbentuk parasetamol (N-asetil-p-aminofenol) sebagai zat aktif obat analgesik–antipiretik yang dikenal luas dan digunakan secara massal.
Seluruh alur tersebut menunjukkan bahwa parasetamol, meskipun sering dianggap obat yang sederhana dan murah, sesungguhnya berdiri di atas rantai sintesis kimia yang sepenuhnya bergantung pada ketersediaan benzena petrokimia yang berasal dari minyak bumi; tanpa minyak bumi.
Pasokan hidrokarbon benzena dalam jumlah besar dan harga terjangkau tidak dapat dipertahankan, sehingga tahapan awal sintesis terganggu, biaya bahan baku meningkat, dan produksi parasetamol menghadapi masalah suplai serius serta lonjakan harga, yang pada akhirnya berpotensi mengurangi akses masyarakat terhadap salah satu obat dasar paling penting dalam sistem kesehatan modern.
Menuju Transisi Kimia Farmasi
Menghadapi masa habisnya minyak bumi, dunia farmasi tidak cukup hanya berbicara tentang efisiensi atau pengurangan emisi. Diperlukan transisi kimia farmasi dalam hal pengembangan bahan baku karbon alternatif, proses sintesis baru, dan desain obat yang lebih sederhana serta hemat sumber daya.
Transisi ini menuntut investasi jangka panjang, kolaborasi lintas disiplin, dan keberanian politik. Tanpa itu, krisis bahan kimia primer obat hanya tinggal menunggu waktu.
Krisis yang Datang Tanpa Resep
Hampir semua bahan kimia primer obat hari ini adalah turunan langsung atau tidak langsung dari hidrokarbon minyak bumi. Fakta ini menempatkan farmasi modern dalam posisi rapuh ketika minyak bumi memasuki masa habisnya. Krisis energi, dalam konteks ini, bukan sekadar persoalan listrik dan transportasi, tetapi ancaman fundamental terhadap keberlanjutan sistem kesehatan global.
Jika obat adalah simbol peradaban, maka ketergantungannya pada minyak bumi adalah cermin keterbatasan peradaban itu sendiri. Tanpa perubahan mendasar, dunia mungkin akan memiliki pengetahuan medis yang tinggi, tetapi kehilangan bahan dasar untuk mewujudkannya.