Modyar! Intelijen AS dan Israel Miskalkulasi, Dikira Serang Iran Cukup 1-2 Hari

Jakarta– Pengamat intelijen dari Universitas Indonesia (UI) Ridwan Habib menilai Amerika Serikat (AS) salah melakukan kalkulasi saat melakukan serangan ke Iran bersama Israel. Ini yang membuat Presiden AS Donald Trump mulai frustasi.

“Amerika miskalkulasi. Mereka pikir setelah melakukan serangan ke Iran dan menghabisi Ayatullah Khamanei, rakyat Iran akan mengambil-alih pemerintahan, nyatanya itu tidak terjadi,” ujar Ridwan Habib, seperti dikutip The Asian Post dari tayangan medsos, Kamis (5/3).

Amerika mengira mayoritas rakyat Iran tidak suka dengan kepemimpinan Khamanei.

Ternyata, ketika pemimpin tertinggi Iran itu tewas, rakyat turun ke jalan sebagai ungkapan duka-cita.

“Ribuan, bahkan jutaan rakyat Iran turun ke jalan, mengantar pemakaman Ayatullah Khamanei. Mereka sangat berduka dan marah dengan Amerika dan Israel,” tegasnya.

Hal itu terlihat jelas dalam berbagai peristiwa di mana rakyat banyak menuntut balas atas kematian Khamanei.

“Mereka berteriak dan berseru untuk melakukan serangan balasan ke Israel dalam Bahasa Persia,” tegasnya.

Ini rupanya tidak ada dalam hitung-hitungan intelijen Amerika dan Israel. Rakyat Iran ternyata tidak mau mengambil-alih kekuasaan dari Khamanei.

Terbukti, sampai perang hampir sepekan, rakyat justru berpihak ke pasukan garda Iran.

“Makanya, Trump sejak awal optimistis serangan hanya membutuhkan beberapa hari untuk kemudian rakyat Iran yang melanjutkan mengambil-alih kekuasaan,” tuturnya.

Tampaknya, inilah yang membuat Trump dan Netanyahu frustasi.

Apalagi, serangan balasan Iran ternyata cukup mematikan dan membuat Tel Aviv porak-poranda, hal yang selama ini belum pernah terjadi. (DW)

Ayatollah Ali KhameneiDonald Trumpkonflik iran-amerikakonflik Israel-IranKonflik Palestina - IsraelNetanyahuperang Israel-IranSerangan Jalur Gaza
Comments (0)
Add Comment