Headlights:
- Kompleksnya pengelolaan data di era digital memerlukan adopsi teknologi yang memudahkan proses pengelolaan data center.
- Perpaduan dua solusi besutan Dell Technologies, yakni Dell PowerStorage dan Dell Private Cloud, dapat menjadi alternatif tetap untuk mengatasi persoalan dalam pengelolaan data center.
- Solusi ini juga diklaim lebih efisien karena menawarkan jaminan pengurangan data 5:1, bahkan 20:1 lewat kombinasi deduplikasi dan kompresi cerdas yang bekerja secara otomatis. Ini membantu perusahaan menekan biaya penyimpanan sekaligus meningkatkan pemanfaatan kapasitas.
Jakarta – Pengelolaan data center bisa jadi membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Ini tidak lepas dari semakin kompleksnya kebutuhan pengelolaan data di era digital seperti sekarang. Adopsi solusi teknologi menjadi cara mudah dan efisien dalam mengelola data center.
Hal itu diungkapkan Jeffry Tjiung Sendjaja, Division Head Server and Storage PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) dalam seminar “Built a Private Cloud That Works for You” yang diadakan MLPT di Jakarta beberapa waktu lalu.
Jeffry mengatakan, perpaduan dua solusi besutan Dell Technologies, yaitu Dell PowerStorage dan Dell Private Cloud, dapat menjadi alternatif tetap untuk mengatasi persoalan dalam pengelolaan data center. Kombinasi dua solusi ini mampu menjadi fondasi infrastruktur penyimpanan modern yang lebih sederhana dalam pengoperasiannya.
“Solusi ini menggabungkan penyimpanan all-flash storage generasi terbaru dengan disaggregated infrastructure yang menyederhanakan operasional sekaligus menekan biaya kepemilikan,” kata Jeffry dalam keterangan resmi yang diterima Asian Post, Kamis, 4 Februari 2026.
Dell PowerStore adalah platform all-flash storage yang dirancang dengan pendekatan future-proof, dan mendukung kemampuan scale-up dan scale-out yang fleksibel. Solusi ini mendukung arsitektur end-to-end NVMe, dual active/active nodes, dan desain modular.
Solusi ini juga diklaim lebih efisien karena menawarkan jaminan pengurangan data 5:1 lewat kombinasi deduplikasi dan kompresi cerdas yang bekerja secara otomatis. Di kondisi tertentu, rasio efisiensi bahkan bisa mencapai 20:1, sehingga akan membantu perusahaan menekan biaya penyimpanan sekaligus meningkatkan pemanfaatan kapasitas.
Sementara, dari sisi operasional, Dell PowerStore memiliki kemampuan self-optimizing dan dukungan Dell AIOps serta automasi end-to-end yang terintegrasi dengan ekosistem Dell.
“Keunggulan lain terletak pada keamanan data. Dengan fitur multiparty authorization, solusi ini membuat setiap tindakan kritis dapat dikendalikan melalui persetujuan multi-pengguna demi mencegah perubahan yang tidak sah,” lanjutnya.
Sedangkan Dell Private Cloud dibangun di atas Dell Automation Platform untuk menghadirkan pengalaman private cloud yang konsisten. Baik di lingkungan on-premises maupun berbasis Software-as-a-Service (SaaS). Solusi ini menyediakan portal terpusat untuk onboarding, orkestrasi, manajemen aset, hingga lifecycle management, sehingga operasional infrastruktur dapat dijalankan secara terstandar dan otomatis.
Menurut Adrian Kustiawan, Presales Server x86 Head Multipolar Technology, tidak seperti pendekatan hyperconverged tradisional, Dell Private Cloud mengusung disaggregated infrastructure yang memungkinkan skala komputasi, penyimpanan, dan jaringan dilakukan secara independen, sehingga lebih fleksibel, tanpa vendor lock-in, dan memastikan pengoptimalan sumber daya sesuai beban kerja (workload).
Dengan dukungan portofolio storage Dell PowerStore, Dell Private Cloud tidak memerlukan perangkat keras khusus. Solusi ini juga diklaim mampu menekan biaya hingga 32 persen lebih rendah ketimbang infrastruktur hyperconverged berkat kebutuhan server yang lebih sedikit, lisensi perangkat lunak yang lebih efisien, serta tingkat utilisasi storage dan komputasi yang lebih tinggi.
“Ini menjadikan Dell Private Cloud pilihan strategis untuk memodernisasi data center dan implementasi AI perusahaan,” tegas Adrian. AA