Jakarta- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatatkan kinerja keuangan solid sepanjang 2025 dengan laba bersih konsolidasian Rp3,5 triliun, tumbuh 16,4% year-on-year (yoy).
Peningkatan diperoleh seiring lonjakan pendapatan bunga, efisiensi biaya dana, serta penguatan margin bunga bersih di tengah tekanan ekonomi global.
Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga sebesar 23% yoy menjadi Rp36,33 triliun. Sementara beban bunga relatif stagnan hanya naik 0,4% yoy menjadi Rp17,91 triliun.
Kondisi ini mendorong pendapatan bunga bersih (NII) melonjak 57,5% yoy menjadi Rp18,42 triliun pada akhir 2025.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menyatakan, BTN berhasil mengakselerasi pertumbuhan bisnis sepanjang tahun 2025 yang ditopang penguatan profitabilitas dan proses bisnis yang semakin efisien berkat transformasi yang konsisten dilakukan di berbagai lini.
“Kinerja yang positif ini merupakan hasil kerja keras dan penerapan strategi bisnis yang cermat serta pengelolaan keuangan yang sehat dan disiplin,” ujar Nixon saat konferensi pers paparan kinerja BTN Tahun 2025 di Gedung BTN Jakarta, Senin (9/2/2026).
Efisiensi pendanaan turut tercermin dari kenaikan margin bunga bersih (NIM) BTN menjadi 4,2%, meningkat 133 basis poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Nixon, capaian tersebut merupakan hasil perbaikan proses penyaluran kredit dan pengelolaan portofolio yang lebih selektif.
Hingga akhir 2025, total aset konsolidasian BTN mencapai Rp527,79 triliun, melampaui target awal tahun sebesar Rp500 triliun.
Kinerja tersebut mengukuhkan peran BTN sebagai bank spesialis pembiayaan perumahan nasional dengan pangsa pasar KPR mencapai 39% secara nasional.
Di sisi kualitas aset, BTN mencatat perbaikan rasio kredit bermasalah dengan NPL gross turun menjadi 3,1%, disertai penguatan NPL Coverage menjadi 123,9%.
“BTN memproyeksikan NPL dapat menurun hingga di bawah 3,0% pada akhir tahun 2026 sejalan dengan membaiknya kualitas kredit,” terang Nixon.
Penguatan fundamental juga tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) yang meningkat ke level 20,9%, memberikan ruang ekspansi yang lebih luas sekaligus menjadi buffer risiko di tengah volatilitas ekonomi. (*) Ranu Arasyki Lubis