Jakarta – Albania membara. Selasa (10/2) malam, bom-bom molotov beterbangan di langit Tirana. Membakar apa saja.
Ibukota Albania berasa di tebir neraka. Ribuan demonstran mengamuk.
Menuntut satu hal yang terasa mustahil: meminta Perdana Menteri Edi Rama dan wakilnya, Belinda Balluku, mundur dari singgasananya.
Balluku yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Infrastruktur, dituduh korupsi.
Jaksa antikorupsi menuding Balluku mengintervensi proses pengadaan proyek konstruksi.
Aksi Balluku dinilai menguntungkan sejumlah perusahaan tertentu.
Palu jaksa terhambat. Permintaannya kepada parlemen untuk mencabut kekebalan hukum Balluku agar proses hukum bisa dilanjutkan, mandeg.
Padahal, pencabutan imunitas hanya dapat dilakukan melalui pemungutan suara di parlemen.
Di sisi lain, mayoritas publik apatis. Tokoh utama opisisi yang memimpin aksi demonstrasi, Sali Berisha, tak lebih baik dari Rama dan Balluku.
Belisha yang mantan Perdana Menteri dari Partai Demokrat itu juga pernah terjerat kasus korusi.
Albania berada di antara mulut buaya dan ancaman terkaman harimau. Menjatuhkan Rama dan Balluku, jika penggantinya Berisha, setali tiga uang. Sama-sama koruptor.
Sami mawon. Namun, sejumlah pengamat meragukan bahwa gelombang protes ini akan membawa perubahan politik yang signifikan.
Analis politik Mentor Kikia menilai masyarakat Albania berada dalam posisi skeptis terhadap pilihan politik yang ada.
“Warga tidak lagi percaya, karena selama ini mereka selalu memilih kejahatan yang lebih kecil untuk menyingkirkan kejahatan yang lebih besar dari kekuasaan,” tutur Mentor Kikia, analis politik setempat, dilansir The Associated Press.
“Persepsi saat ini adalah jika Rama pergi, Berisha akan kembali. Yang satu jatuh dari kekuasaan karena korupsi, yang lain juga seharusnya pergi karena korupsi,” lanjutnya.
Albania saat ini tengah berupaya mempercepat proses bergabung dengan Uni Eropa, paling tidak sampai tahapan aksesi pada 2027.
Saat ini, Albania berada di bawah pantauan ketat Uni Eropa terkait reformasi hukum dan tata kelola pemerintahan.
Berbagai lembaga pemantau internasional menilai, Albania masih bergulat dalam lumpur korupsi yang meluas dan melembaga. Ini menjadi duri bagi stabilitas politik dan keinginan integrasi ke Uni Eropa. (DW)