Jakarta- Saat berangkat merantau ke Jakarta, Nicolaus Prawiro menggenggam mimpi tinggi: duduk di belakang stir Toyota Land Cruiser, dengan jam Rolex menghiasi pergelangan tangannya.
Nico, sapaan pria muda asal Pemangkat, Sambas, Kalimantan Barat itu, tak sekadar berhenti di mimpi. Dia benar-benar mengejar mimpinya itu.
“Saya punya keyakinan, dengan kerja keras, konsistensi, terus meningkatkan skill, dan doa terbaik kepada Pemilik Kehidupan, tak ada yang tak mungkin,” ujar Nico.
Dia, yang terlahir dari keluarga sederhana, sangat sederhana, tak mau menyerah begitu saja dengan takdirnya.
Tiba di Jakarta, Nico mulai mengejar mimpinya dari Pasar Pagi Mangga Dua: menjadi kuli panggul.
Rupiah demi rupiah dia kumpulkan untuk membuat pijakan peraih mimpi. Kuliah di FE Universitas Trisakti dari hasil kerja kerasnya di Pasar Pagi menjadi pijakan berikutnya.
Usai mendapatkan gelar S1 di Trisakti, Nico kemudian melanjutkan studinya ke jenjang S2 di Universitas Bina Nusantara.
Dan, dengan kerja keras, belajar tanpa batas, dan doa tak pernah lepas, Nico berhasil “memahat” takdirnya sendiri.
Land Cruiser kini telah terparkir manis di carport rumahnya yang nyaman. Jam Rolex juga selalu menemani ke mana pun dia pergi.
Nico, pria muda dari Pemangkat itu, kini adalah Wakil Presiden Direktur Asuransi Cakrawala Proteksi, perusahaan asuransi umum dengan premi bruto di atas Rp1 triliun.
Meski telah menggapai mimpi-mimpinya, Nico tetaplah Nico yang dulu: tetap penuh semangat, tak henti belajar, selalu rendah hati, ramah, dan terus menjaga integritas. Bahkan, dia terlihat semakin wise.
Apa rahasianya, Chief?
Nico hanya menjawab dengan senyum. Namun, dengan melihat ruang kerjanya yang tertata apik di kawasan elit Kemayoran, seperti menjadi jawaban atas pertanyaan personal itu.
Selain mengoleksi miniatur berbagai jenis pesawat terbang, Nico ternyata memiliki koleksi keris tosan aji.
Setidaknya, ada tiga koleksi keris bersemayam di samping meja kerjanya: Keris Balebang Luk 7, Keris Pasopati, dan Keris Kebo Lajer.
Ketiga keris koleksinya itu penuh dengan filosofi kehidupan dan kepemimpinan. Sepertinya, ini salah satu “pengasah” batin Nico untuk mencapai tahapan wisdom.
“Keris adalah salah satu karya seni luar biasa. Sebuah keris ditempa dengan berbagai lapisan bahan pembentuknya hingga menjadi karya seni yang sangat indah dan penuh filosofi,” ujarnya.
Ketiga keris asal era Mataram koleksinya inilah yang beberapa waktu lalu turut dipamerkan pada ajang “Starting Year Forum 2026” yang digelar Infobank Media Group.
Bertempat di St. Regis, Kuningan, Jakarta, ketiga keris koleksi Nico ini bersanding dengan koleksi keris para tokoh dan pemimpin nasional. Antara lain, Presiden Prabowo Subianto, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, dan Menbud Fadli Zon.
“Keris adalah salah satu warisan leluhur bangsa Indonesia. Warisan karya seni yang tak hanya indah, tapi juga penuh filosofi. Sudah selayaknya kita melestarikannya,” tutup Nico. (DW)