Kelanjutan Perang Iran akan Ditentukan Akhir Minggu Ini

Oleh Mahendra Siregar, Pemerhati Geopolitik

PERANG Iran memasuki minggu kelima pada akhir minggu ini. Seperti direncanakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, bahwa perang ini akan berlangsung dalam empat sampai lima minggu. Apakah suatu kebetulan atau bukan, Jumat ini, yang merupakan Jumat Agung, adalah hari libur nasional di banyak negara, termasuk di AS.

Pada hari itu tidak ada perdagangan saham, migas, obligasi maupun transaksi pasar keuangan lainnya, kecuali di pasar kripto. Belajar dari pengalaman selama sebulan ini, maupun pengambilan keputusan oleh Trump di waktu lalu yang selalu memperhatikan gejolak pasar keuangan, tampaknya akan ada keputusan besar dan strategis. Trump memiliki waktu tiga hari penuh untuk melakukan keputusan besar itu, tanpa harus khawatir dampaknya kepada pasar keuangan.

Sejak awal minggu ini, Trump seperti biasa menyampaikan berbagai pernyataan dan indikasi yang saling-bertolak belakang. Dimulai dengan pernyataannya bahwa perang akan segera berakhir karena perundingan dengan Iran berlangsung dengan baik. Di lain sisi, dia mengancam apabila Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz maka AS akan menghancurkan infrastruktur listrik, energi bahkan desilinasi air Iran.

Dan, perkembangan terakhir, Trump mengindikasikan siap mengakhiri perang Iran. Bahkan dengan membiarkan Selat Hormuz tetap dikuasai Iran, dan menyerahkan kepada negara-negara lain yang pasokan minyaknya tergantung jalur laut itu untuk menyelesaikannya.

Pernyataan-pernyataan Trump yang makin mengarah pada kemungkinan pengakhiran segera perang telah memunculkan sentimen positip di pasar keuangan. Terlihat dari naiknya indeks saham Wall Streetsecara terbatas, turunnya harga futures minyak bumi 2-3 bulan ke sekitar atau di bawah US$100, dan turun tipisnya yield obligasi pemerintah AS di pasar. Pada gilirannya, sekalipun terbatas membaiknya berbagai indikator pasar keuangan ini, hal itu memberikan ruang tambahan bagi Trump mengambil keputusan besar pada akhir minggu ini.

Tiga Opsi dan Risikonya

Banyak pihak dan analis berpandangan bahwa pernyataan Trump yang sangat sering berubah dan senantiasa saling-bertolak-belakang itu sebagai sikapnya yang tidak konsisten dan tidak bisa dipercaya. Namun, pengalaman juga menunjukkan bahwa berbagai pernyataan itu menggambarkan opsi-opsi yang sedang dipertimbangkannya untuk mencapai tujuan dalam menghadapi suatu permasalahan yang sangat kompleks. Pada gilirannya, keputusan final yang diambilnya tidak akan terlalu jauh berbeda dengan opsi-opsi itu.

Satu faktor sangat penting yang tidak berada dalam kendali Trump adalah keterbatasan waktu yang dihadapinya. Dalam hal perang Iran ini adalah tidak populernya perang di mata publik AS, dan Pemilu Legislatif AS bulan November, yang akan segera masuk ke masa kampanyenya.

Berhadapan dengan kondisi dan realitas itu, maka tiga opsi menjadi pilihannya: mendorong jalur perundingan, menghancurkan berbagai infrastruktur vital Iran, atau menghentikan perang dengan membiarkan Selat Hormuz dikuasai Iran. Pertanyaan besarnya adalah putusan mana yang akan diambilnya pada akhir minggu ini, dan apa risiko masing-masing putusan itu?

Opsi Satu, Trump mendorong jalur perundingan tampaknya menemui jalan buntu, karena Iran sama sekali tidak ingin melakukan hal itu. Setidaknya ada dua alasan Iran tidak ingin berunding langsung, bahkan mungkin juga tidak melalui mediator dengan AS. Pertama, Iran tidak memercayai Trump lagi karena sudah dua kali dikelabui, yaitu dibom justru saat sedang melangsungkan perundingan dengan AS.

Kedua, Iran saat ini merasa sedang di atas angin dan yakin dapat “memenangkan” perang ini. Tentu ukuran kemenangan itu bukan secara militer, yang dalam perang asimetris ini Iran terlihat sangat terpukul oleh korban besar dan hancurnya sebagian besar instalasi dan fasilitas militer, bahkan mesin untuk memproduksi senjata mereka.

Ukuran kemenangan Iran dilihat dalam wujud Pemerintah Teokratik Syiah yang didukung oleh Tentara Revolusi (IRGC) tetap bertahan efektif. Selain itu, Iran dapat menguasai Selat Hormuz, yang sebelum perang berlangsung merupakan jalur pelayaran internasional terbuka. Dalam kondisi demikian, sekalipun mengalami korban jiwa dan material yang luar biasa, Iran tidak akan ingin berunding dengan AS dan kehilangan kesempatan “menang” dalam perang ini.

Opsi Dua, Trump menghancurkan berbagai infrastruktur vital Iran secara masif dan cepat pada akhir minggu ini. Sasaran utama serangan itu tampaknya fasilitas migas Iran di Pulau Kharg, yang merupakan depot penyimpanan dan pengapalan 90% ekspor minyak Iran. Kemungkinan sasaran lainnya adalah salah-satu pulau dekat Selat Hormuz untuk membebaskan pelayaran di selat itu dari Iran.

Untuk melaksanakan opsi ini, AS harus menerjunkan pasukannya yang memang sudah disiapkan untuk itu, tidak bisa hanya dengan serangan udara. Saat ini setidaknya sudah ada sekitar 5.000 anggota pasukan marinir dan 1.000 infantri AS di kawasan itu. Seluruh pasukan marinir dan infantri itu berada di pangkalan laut maupun udara AS di negara-negara GCC dan Yordania.

Jika opsi ini yang diambil, maka risiko yang dihadapi oleh Trump sangat besar. Iran sudah menyampaikan ancamannya bahwa jika AS menerjunkan pasukannya ke daratan Iran, maka Iran akan membalas dengan menyerang termasuk menerjunkan pasukannya ke pesisir negara-negara GCC. Sedangkan untuk membalas serangan yang menghancurkan infrastruktur listrik dan energinya, Iran juga akan membalas dengan serangan serupa ke negara-negara GCC, ditambah serangan pasukan Houthi ke pelayaran di Selat Bab al-Mandeb di Laut Merah maupun para sekutu Iran di Lebanon, Irak, Suriah juga negara-negara lainnya.

Selain itu, AS harus menanggung dua risiko besar lainnya, yaitu jatuhnya korban pasukannya dalam perang terbuka di darat yang sangat sensitif bagi politik dalam negeri Trump dan Partai Republik, terutama menjelang Pemilu Legislatif. Serta kemungkinan perang menjadi sangat berkepanjangan dan meluas secara horizontal ke seluruh kawasan Timur Tengah, yang sama sekali tidak diinginkan oleh Trump maupun basis MAGA/America First pendukungnya.

Opsi Tiga, Trump menghentikan perang dan mengumumkan AS telah “memenangkan” perang dengan Iran. Alasannya, AS dan sekutunya (Israel) sudah menewaskan mayoritas pimpinan pemerintah dan militer Iran. AS juga sudah menghancurkan angkatan laut dan angkatan darat Iran. Selain itu, sudah menghancurkan seluruh misil dan drone serta pusat-pusat produksi dan peluncurannya serta sebagian besar fasilitas pengayaan uranium yang dapat digunakan sebagai bahan senjata nuklir oleh Iran.

Karena sudah mencapai tujuannya, AS dapat menghentikan perang dengan Iran, terlepas bahwa tidak terjadi pergantian rezim pemerintahan di Teheran maupun penguasaan Selat Hormuz oleh Iran. Dari sisi risiko politik dalam negeri AS, opsi ini yang paling kecil dampaknya karena harga minyak dipastikan akan turun walaupun tidak ke tingkat sebelum perang berlangsung. Pasar keuangan akan rebound, dan Partai Republik akan masuk ke kampanya Pemilu Legislatif dengan perang Iran yang sudah usai.

Namun, dari segi geopolitik, risiko ini sangat besar bagi AS, Timur Tengah, maupun dunia. AS akan kehilangan muka di dunia internasional karena dianggap kalah perang dari Iran. Konsekuensinya, AS akan makin jauh menarik diri dari kawasan-kawasan global dan fokus pada kawasan Amerika Utara dan Selatan dengan menjalankan kebijakan isolasionismenya yang memang menjadi tema kampanye presidensi Trump tahun 2024.

Di dalam negeri AS sendiri, kondisi ini dapat memberikan peluang bagi Wapres JD Vance yang pro-isolasionisme dan anti-perang menjadi kandidat kuat Pilpres 2028, mengalahkan potensi saingannya seperti Menlu Marco Rubio yang terlihat lebih interventionist.

Untuk kawasan Timur Tengah akan terbentuk peta politik baru. Iran akan menjadi super power kawasan yang makin disegani. Negara-negara GCC akan membatasi keberadaan basis militer AS, bahkan mungkin menutupnya karena menghadapi tantangan di dalam negeri masing-masing.

Di Israel, yang juga akan menjalani pemilu pada tahun ini, tampaknya tidak akan terjadi perubahan mendasar di dalam negeri. Namun, secara internasional posisi Israel akan sangat terdampak. Penarikan diri AS, sekutu utama Israel, dari kawasan Timur Tengah akan memengaruhi balance of power di kawasan itu yang merugikan posisi Israel. Selain itu, dapat dipastikan hampir tidak akan ada lagi negara lain yang ingin terlihat berhubungan erat dengan Israel, baik di kawasan maupun secara global.

Probabilitas

Sebagian besar orang menduga atau mengharapkan bahwa Trump akan memilih Opsi Tiga, yaitu menyatakan bahwa AS telah menang perang dan menghentikannya dengan segera. Namun, ditinjau dari sisi pribadi Trump, hal ini memiliki risiko yang sangat besar. Dia akan kehilangan statusnya sebagai pusat perhatian dunia yang tampaknya bukan saja sangat dinikmatinya, tapi juga merupakan bagian tidak terpisahkan dari karakternya.

Selain itu, jika opsi ini yang dipilih Trump, maka reputasi AS akan tergerus dari persaingan geopolitik yang sangat diperlukan oleh Trump dalam memenangkan persaingan geoekonomi keunggulan teknologi AI, penguasaan tambang mineral kritis dan akses energi, penempatan pusat-pusat logistik dan persaingan strategis lainnya melawan RRT (Republik Rakyat Tiongkok). Hal ini tentu sulit dilakukan oleh Trump yang mempertaruhkan supremasi geoekonomi di atas segalanya, terutama menjelang kunjungan resminya ke Beijing pada pertengahan bulan depan.

Menilai risiko-risiko opsi ini dari sisi Trump, maka dapat dipahami alasan untuk lebih memilih pengakhiran perang lewat perundingan. Dengan perundingan, AS tidak akan kehilangan reputasi sebesar pada opsi tiga. Bahkan masih tetap dapat sesumbar mengatakan memenangkan perang itu. Namun, pertanyaannya adalah apakah Iran bersedia menerima opsi ini? Apa justifikasi Iran menerimanya setelah begitu gigihnya menyatakan tidak akan bisa memercayai AS lagi?

Kemungkinannya adalah sebagian dari lima prasyarat perundingan yang diajukan Iran dapat diterima AS sebagai butir-butir yang akan dirundingkan, yakni (1) jaminan tidak akan ada serangan lagi di masa depan; (2) kompensasi terhadap kerugian yang terjadi selama perang dan pencabutan sanksi; dan (3) penerapan sistem baru pengawasan Selat Hormuz. Dan, jika ditambah pemenuhan isyarat permintaan Iran bahwa Tim Negosiasi AS akan dipimpin langsung oleh Wapres JD Vance, maka probabilitas dimulainya perundingan atau Opsi Satu akan lebih mengemuka.

Amerika SerikatDonald TrumpIranPerang IranSelat HormuzTimur Tengah
Comments (0)
Add Comment