Inflasi Stabil, Rupiah Terkendali, BI Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Menguat di Semester II 2025

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa stabilitas ekonomi nasional terjaga dengan baik di tengah ketidakpastian global dan akan menguat di paruh kedua 2025.

Asisten Gubernur dan Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Solikin M. Juhro menilai, inflasi yang rendah, nilai tukar rupiah yang cukup stabil, serta kebijakan suku bunga yang lebih longgar menjadi faktor penting dalam mendorong optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II/2025.

“Kita masih bersyukur bahwa di tengah ketidakpastian yang tinggi ekonomi kita secara umum masih terkelola dengan baik. Kita bisa melihat dari inflasi sudah dalam kondisi yang begitu stabil dan rendah. Kalau inflasinya rendah ada ruang suku bunga turun,” ungkapnya, dalam Forum Unlock Opportunities In Global Economic Change yang digelar Infobank, di Jakarta, Jumat, (29/8/2025).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi inti tercatat sebesar 2,32 persen secara tahunan, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 1,32 persen, dan komponen harga naik 3,82 persen.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa inflasi tetap stabil pada level rendah, memberikan ruang bagi kebijakan moneter lebih akomodatif.

Selain inflasi, lanjutnya, nilai tukar rupiah juga menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Rupiah masih menguat terhadap mayoritas mata uang negara berkembang maupun negara maju, kecuali terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

“Hanya kita kalah dengan dolar AS sebagai hard currency dan safe haven assets. Tetapi tren-nya mulai melandai. Ini menunjukkan stabilitas dalam negeri terkelola dengan baik, dari sisi inflasi maupun kurs,” jelas Solikin.

Dari sisi pertumbuhan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen dan diharapkan akan menguat pada paruh kedua 2025 dengan syarat realisasi program pemerintah harus dipercepat.

Sebab, menurutnya, realisasi fiskal pada semester I/2025 masih terkesan lambat. Maka peluang peningkatan belanja pemerintah pada semester II/2025 diharapkan menjadi katalis pertumbuhan.

“Jadi fiskal kalau kita lihat di semester I/2025 agak lelet. Mudah-mudahan di semester II/2025 ini realisasi program pemerintah lebih tinggi. Dan kalau kita melihat di semester 2 ini ada indikasi yang cukup baik ekonomi kita akan tumbuh,” tambahnya.

Perbankan Masih Wait and See

Ia menegaskan, kebijakan moneter yang digagas BI telah diarahkan lebih akomodatif. Sejak September 2024, BI menurunkan suku bunga acuan sebanyak lima kali dengan total 125 basis poin, dari 6,25 persen menjadi 5 persen.

Langkah ini, katanya, menunjukkan komitmen BI untuk mendorong penyaluran kredit. Sayangnya, transmisi kebijakan penurunan suku bunga dinilai masih berjalan lamban.

“Biasanya kalau suku bunga acuan turun, dalam beberapa waktu pasar dana, pasar uang, dan pasar kredit ikut turun. Tapi ada unsur wait and see, tapi seharusnya bisa (red: lebih cepat) turun karena ekspektasi ekonomi yang membaik,” ungkapnya.

Sementara, likuiditas perbankan secara industri juga dinilai masih ampel. Meski begitu, sebagian bank masih memilih menempatkan dana likuiditasnya pada instrumen berimbal hasil tinggi seperti SBN dan SRBI, sehingga distribusi kredit belum optimal.

Dengan penurunan BI Rate yang diikuti turunnya imbal hasil SBN dan SRBI, diharapkan dana akan lebih banyak dialokasikan ke sektor kredit.

“Jadi harapan kita dengan penurunan BI Rate, suku bunga SRBI yang turun tentunya SBN juga akan sedikit melandai. Tentunya realokasi ke kredit menjadi nyata di semester kedua,” pungkasnya. (*) Ranu Arasyki Lubis

Bank IndonesiaBI Rateinflasiinflasi panganperry warjiyopertumbuhan ekonomiSuku Bunga Acuan
Comments (0)
Add Comment