IHSG Rontok Imbas Perang Iran-AS, Investor Lari ke Saham Energi dan Emas

Jakarta- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan Senin (2/3/2026) imbas perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Dalam pantauan The Asian Post, IHSG anjlok 218,66 poin atau 2,66 persen ke level 8.016,83 pada pentupan perdagangan.

Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 704 saham melemah, 113 saham menguat, dan 141 saham stagnan.

Sepanjang sesi, pasar mencatat transaksi 54,08 miliar saham dengan nilai Rp29,75 triliun, sementara kapitalisasi pasar turun menjadi Rp14.342 triliun.

Secara kinerja, IHSG telah terkoreksi 4,52% dalam sepekan terakhir dan turun 6,97% dalam tiga bulan terakhir. Meski demikian, secara bulanan indeks komposit masih mencatatkan kenaikan 1,19%.

Tekanan jual paling besar terjadi pada sektor saham siklikal, infrastruktur, dan industrial yang masing-masing terkoreksi 7,60%, 4,13%, dan 5,95%.

Di tengah pelemahan tersebut, saham-saham berbasis komoditas justru menjadi penahan laju koreksi indeks.

Di sektor logam dan mineral, saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) melonjak 5,98% ke level 4.610, PT Archi Indonesia Tbk. menguat 6,12% ke 1.995, PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) naik 4,50% ke 8.700, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk. menguat 4,12% ke level 1.010 per saham.

Penguatan juga terjadi pada sektor energi seiring lonjakan harga komoditas global. Saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) melesat 25% ke Rp2.200, PT Elnusa Tbk. (ELSA) naik 17,65% ke Rp1.000, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) menguat 15,65% ke Rp1.995, PT Indika Energy Tbk. (INDY) naik 15,53% ke Rp4.240, dan PT Super Energy Tbk. (SURE) menguat 8,75% ke Rp2.860 per saham.

Pejabat sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menyatakan volatilitas pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh eskalasi geopolitik global. Ia meminta investor tetap rasional dalam mengambil keputusan investasi.

“Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental. Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing masing investor,” ungkap Jeffrey dalam keterangannya, Senin (2/3/2026).

Jeffrey juga menegaskan bahwa dalam kondisi risk off, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti emas, obligasi, dan pasar uang.

Pergeseran sentimen tersebut biasanya tercermin dari meningkatnya volatilitas pasar saham dan tekanan pada nilai tukar negara berkembang.

“Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing masing investor,” ujarnya kepada wartawan, Senin (2/3/2026).

Ia menambahkan, saat investor global menyesuaikan portofolio, saham-saham berlikuiditas tinggi dan berbobot besar dalam indeks kerap menjadi pilihan utama untuk dilepas karena paling efisien dari sisi transaksi.

Ketegangan geopolitik meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Dalam laporan yang beredar, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, disebut tewas dalam serangan tersebut, memicu guncangan di pasar keuangan global. (*) Ranu Arasyki Lubis

IHSGIHSG melemahkonflik iran-amerikaperang Israel-Iran
Comments (0)
Add Comment