Jakarta – Pemerintah Spanyol membuat keputusan tepat: menarik duta besarnya secara permanen di Israel.
Bukan karena Tel Aviv sudah hancur dihajar rudal Iran, tapi lebih karena pertimbangan solidaritas dan kemanusiaan.
Reuters melaporkan, pengumuman ditariknya duta besarnya di Israel itu tertuang dalam lembaran resmi yang menyatakan bahwa posisi duta besar tersebut sudah diakhiri pada Selasa (10/3).
Kementerian Luar Negeri Spanyol juga menyatakan kedutaan besar mereka di Tel Aviv akan dipimpin Kuasa Usaha untuk waktu ke depan.
Seperti diketahui publik, meski dikeroyok Amerika Serikat (AS) dan Israel, Iran masih tetap bertahan menghadapi serangan dua negara agresor itu. Bahkan, Negeri Para Mullah itu berhasil melakukan perlawan dan membuat luluh-lantak Tel Aviv.
Meski sering berbohong dan memanipulasi terkait report serangan Iran dan jumlah korban yang meninggal, publik akhirnya tahu bagaimana kondisi Israel setelah hampir setengah bulan perang.
Tak hanya korban, jumlah dana yang dikeluarkan untuk membiayai perang juga sangat besar. Mencapai Rp15 triliun per hari.
Publik di AS juga sudah mulai geram. Sebab, biaya perang mulai mengganggu keuangan pemerintah.
Apalagi, publik AS sangat sadar pajak. Mereka keberatan jika pajaknya digunakan untuk membiayai perang.
Di sisi lain, publik AS sadar jika perangnya belum berakhir dan masih panjang.
Apalagi, Iran mengancam akan membombardir Tel Aviv dengan meningkatkan serangan menggunakan rudal dengan hulu ledak minimal 1 ton.
Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Hossein Majid menegaskan kepada media Iran Mousavi, Iran tidak akan lagi menggunakan rudal dengan hulu ledak kurang dari satu ton.
“Kita akan memakai semua stok rudal yang memiliki hulu ledak minimal satu ton untuk melancarkan gempuran masif ke Israel,” ancamnya. (DW)