Oleh Darto Wiryosukarto, Managing Editor The Asian Post
UNTUK kesekian kalinya Amerika Serikat (AS) merasa dirinya sebagai polisi dunia: menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Presiden berusia 63 tahun itu diculik dari rumah pribadinya di Caracas, Sabtu (3/1) dini hari, setelah berbulan-bulan intelijen AS memantaunya.
Misi rahasia yang dipimpin langsung Presiden AS Donald Trump ini dilabeli nama “Operasi Absolute Resolve”. Saking rahasianya, konon, Trump tidak memberi tahu recana ini ke Kongres AS. Makanya, beberapa anggota Kongres, termasuk dari Partai Republik, menyuarakan protes. Mereka tidak setuju dengan aksi Trump? Entahlah! Siapa percaya Amerika?
Protes dari Partai Demokrat, dan sebagian kecil Partai Republik, hanyalah riak. Riak kecil dari arus besar menuju hulu: America First.
AS, tak hanya di era Trump, selalu merasa nomor satu. Selalu merasa menjadi polisi dunia. Selalu merasa paling benar, dan berhak menentukan hitam-putih negara lain yang memiliki kedaulatan sendiri. Perang di Afganistan (2001–2021) dengan dalih membasmi Taliban dan Al-Qaeda, Perang Irak (2003–2011) untuk menggulingkan Saddam Hussein, dan perang melawan ISIS (sejak 2014), sekadar beberapa case bagaimana Amerika merasa sok paling berkuasa untuk menentukan nasib negara atau kelompok lain.
Indonesia dan Soekarno pun pernah merasakan. Karena tak mau tunduk ke Amerika, bahkan semakin dekat dengan Beijing, sejak 1958 Amerika mengirim agen-agen CIA (Central Intelligence Agency)-nya untuk menjatuhkan Soekarno. Jutaan nyawa menjadi korban dibalik isu pemberantasan komunis, dan agen-agen CIA berada di belakangnya.
Meski selalu berulang dan boroknya semakin terlihat, Amerika tak pernah merasa bersalah. Alih-alih meminta maaf, dia selalu menyalahkan pihak lain. Pola pikir dan perilakunya selalu terpusat pada diri sendiri. Merasa lebih penting dari negara lain, selalu haus dengan pujian dan kekaguman yang berlebihan, dan memiliki empati sangat rendah. Selalu merasa “the first”.
Dalam ilmu kedokteran, sikap mental seperti ini dikenal sebagai sakit mental NPD (Narcissistic Personality Disorder), sebuah kondisi mental serius. Dan, untuk Amerika, sudah sangat kronis. Saking kronisnya, Amerika tidak menyadari kondisinya, dengan terus menunjukkan sikap arogan, manipulatif, serta merasa punya hak istimewa. Padahal, di balik itu sejatinya ada rasa tidak percaya diri. Ada perasaan rapuh yang tersembunyi.
Dan, apesnya, semua orang sudah tahu rapuhnya Amerika hari ini. Setidaknya, ada dua masalah besar yang menunjukkan dengan kasat rapuhnya Amerika.
Satu, utang nasional Amerika yang terus membengkak. Saat ini utang nasional Amerika telah mencapai 38 triliun dolar AS. Rasio utang terhadap PDB lebih dari 120 persen. Ini menunjukkan kegentingan fiskal dengan beban bunga yang sangat mengkhawatirkan. Beban pembayaran utang Amerika sudah melebihi anggaran pertahanan. Bahkan, sudah menyedot sumber daya signifikan yang dibutuhkan untuk investasi di bidang infrastruktur, pendidikan, dan bidang-bidang penting lainnya.
Dua, meledaknya pengangguran di Amerika. Pasar tenaga kerja AS menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang mengkhawatirkan. Ini sinyal keras bakal terjadinya resesi. Tingkat pengangguran naik terus tanpa bisa dihentikan dalam waktu cepat. Apalagi, dari 75.000 lapangan kerja yang ditargetkan hanya bisa dicapai sepertiganya, sekitar 22.000 lapangan kerja.
Celakanya, dua kerapuhan Amerika ini justru ditambal dengan cara-cara lama cowboy Amerika: make war. Agar masyarakat Amerika tak fokus memelototi dua kerapuhan tadi, Amerika membuat perang. Perang dagang, perang melawan terorisme, dan perang melawan negara lain, juga perang melawan penduduk asli Amerika: Indian. Ini cara pemimpin-pemimpin Amerika melakukan pengalihan isu, termasuk Trump.
Sembari menina-bobokan warganya dengan cerita perang, Amerika menangguk untung dari sini: eksploitasi minyak. Selalu begitu. Juga di Venezuela. Sakitnya lagi, Trump berdalih: kalau tidak kita, yang lain akan mencuri! Benar-benar sakit. (*)