Jakarta— Memasuki hari keempat serangan terhadap Iran, militer Amerika Serikat mengklaim telah meluluhlantakkan markas komando dan kontrol milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta menghancurkan instalasi pertahanan udara strategis Iran.
United States Central Command (CENTCOM) menyebut, operasi juga menyasar lokasi peluncuran rudal dan drone Iran. Namun, klaim tersebut tidak disertai bukti visual atau dokumentasi independen.
“Kami akan terus mengambil tindakan tegas terhadap ancaman yang ditimbulkan oleh rezim Iran,” tulisnya di X.
Sehari sebelumnya, CENTCOM mengklaim telah menyerang lebih dari 1.250 target di Iran serta menghancurkan 11 kapal milik Teheran. Angka yang menunjukkan skala operasi militer yang masif.
Di tengah gempuran tersebut, Iran melancarkan serangan balasan. Laporan resmi menyebut enam personel militer AS tewas akibat serangan Iran di Kuwait pada akhir pekan.
Dalam kekacauan itu, Kuwait secara menyatakan keliru menembak jatuh tiga jet tempur F-15E milik AS.
Seluruh awak berhasil menyelamatkan diri dan ditemukan dalam keadaan selamat.
Dari pihak Iran, militer setempat menyatakan 13 tentaranya tewas dalam serangan AS-Israel yang menghantam pangkalan militer di Provinsi Kerman, wilayah selatan negara tersebut.
Kantor berita ISNA juga melaporkan lima anggota angkatan udara dan angkatan laut IRGC gugur dalam serangan di kota Jam dan Dir, Provinsi Bushehr.
Situasi ini memperlihatkan konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menegaskan, Washington memiliki kemampuan untuk bertindak lebih lama dari proyeksi awal empat hingga lima minggu operasi militer melawan Iran.
Pernyataan itu menjadi sinyal keras bahwa serangan AS-Israel ke Iran berpotensi berlanjut lebih lama, dengan risiko eskalasi regional yang semakin tak terhindarkan. (*) RAL